“Ini bukan yang pertama kali. Sejak pertama kali menemukan telur penyu di kawasan pantai ini, kami sudah bertekad untuk melakukan konservasi,” kata Direktur SLL Qori’ Bayyinaturrosyi pada Lombok Post.
Sedari awal, pihaknya memang sudah menjalin koordinasi dengan beberapa pihak terkait untuk melaporkan hasil temuan tersebut. Di mana, habitat penyu yang ada di pantai Labuhan Haji menunjukkan kondisi pantai tersebut yang masih alami.
Qori’ mengemukakan, berdasarkan informasi yang dihimpun dari nelayan dan penduduk setempat, sejak tahun 90-an, kawasan pantai Labuhan Haji merupakan lokasi penyu bertelur. Seiring berjalannya waktu, telur-telur penyu itu tidak ditemukan lagi.
Kini, mereka menemukan kembali penyu-penyu yang bertelur di kawasan tersebut. “Kalau kata para nelayan, memang sering mereka menemukan penyu di kawasan pantai Labuhan Haji ini,” jelasnya.
Sayangnya, keinginan untuk melakukan konservasi membutuhkan sumber daya yang mumpuni. Sarana dan prasarana berupa tempat penangkaran dan juga pengetahuan mengenai penangkaran tidak dimiliki oleh mereka. Untuk itu, pihaknya tengah berupaya berkoordinasi dengan intansi terkait. Baik Dinas Pariwisata dan juga Dinas Perikanan dan Kelautan Lotim.
“Sejauh ini, memang kita sudah mendapatkan dukungan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universtas Mataram (Unram). Kedua universitas ini sudah bersedia melakukan pendampingan,” tuturnya.
Kadis Pariwisata Lotim Iswan Rakhmadi mengatakan sudah mendapat informasi mengenai penemuan habitat penyu di pantai Labuhan Haji. Menurutnya, hal tersebut memiliki potensi dalam mengembangkan wisata. Karena keberadaan habitat penyu menunjukkan kawasan pantai yang bersih.
Selain akan mendalami kebenaran informasi tersebut, pihaknya juga akan menghubungkan pihak SLL dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Lotim. “Mengenai konservasi, tentu Dinas Perikanan dan Kelautan yang memiliki wewenang. Kami akan memfasilitas terbangunnya sinergitas tersebut,” kata Iswan. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita