----
Sebuah mesin senar raket manual merek Eagnas terpajang di depan toko Dominate Badminton. Di samping mesin senar manual itu, Wardimansyah duduk di sebuah bangku panjang sembari mengerjakan senar raket salah seorang pelanggannya.
Sekitar 7 menit berlalu, setelah senar terpasang, ia kemudian melanjutkan penyenaran ke alat senar manual. Kurang 20 menit, senar raket sudah terpasang dan siap digunakan menepok bulu di lapangan.
Itulah yang dikerjakan pemuda asal Kecamatan Selong, Wardimansyah, 27 tahun. Ia sudah empat tahun menggeluti pekerjaan tersebut. “Awalnya, tiga tahun sebelum itu saya jualan senar,” kata Wardiman.
Bapak satu anak yang hobi dan cukup lihai bermain tepok bulu ini tidak hanya melayani jasa penyenaran, sebagai usaha tambahan di tokonya. Dia juga menjual senar, grip, raket, dan shuttlecock atau bola bulungtangkis. Tapi dari semua itu, yang paling lancar adalah penyenaran.
Jasa ini sebenarnya sudah sekaligus dengan usaha menjual senar. Namun tidak hanya itu, bedanya dari jualan perlengkapan olahraga lainnya adalah si penyedia jasa penyenaran harus pandai bermain bulutangkis.
“Karena dari sana kita melakukan marketing. Main dari gedung ke gedung sembari menawarkan senar dan bola,” jelasnya.
Padahal tidak mesti orang yang menyenar raket harus pandai bermain bulutangkis. Namun di Lotim, ia melihat para pemain bulutangkis akan lebih percaya pada tukang senar yang mainnya bagus. Sehingga ketika beraksi di lapangan, orang akan cenderung tersugesti untuk memiliki tarikan senar seperti si penyenar raket yang pandai bermain.
Ia menceritakan salah satu pengalaman ketika melihat salah seorang temannya yang adalah atlet bulutangkis lebih dipercaya menghasilkan tarikan senar yang bagus dari pada dia yang kemampuannya di bawah temannya itu. “Padahal saya yang mengajarkan teman saya ini nyenar. Tapi karena dia atlet, jadi orang lebih percaya padanya. Itu menariknya di sini. Para pemain cenderung mensugesti dirinya sendiri pada satu orang,” jelasnya.
Sebagai seorang penyenar yang belum terlalu lama eksis di Gumi Patuh Karya, Wardiman termasuk sudah cukup banyak dipercaya para pemain. Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan order sampai 150 raket. Harga senar bervariasi, dari yang paling bawah Rp 40 ribu sampai Rp 150 ribu.
Berbicara soal harga, saat ini yang ia hadapi adalah banyaknya senar KW alias palsu. Karena itu, khusus untuk merek Yonex, ia memiliki alat khusus untuk mendeteksi senar palsu tersebut.
“Tapi tanpa alatpun kita sudah tahu senar yang tidak asli. Paling mudah untuk mengetahuinya adalah dari harga yang jauh berbeda,” jelasnya. (fatih/r5) Editor : Rury Anjas Andita