Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

“Makan” Korban Lagi, Jalan Pusuk Sembalun Butuh Pengaman Ini

Rury Anjas Andita • Kamis, 14 Juli 2022 | 08:30 WIB
LAKALANTAS: Sejumlah warga berkumpul usai memberikan pertolongan bagi pengendara yang terlibat kecelakaan, Selasa (15/2) malam. (Dedi/Lombok Post)
LAKALANTAS: Sejumlah warga berkumpul usai memberikan pertolongan bagi pengendara yang terlibat kecelakaan, Selasa (15/2) malam. (Dedi/Lombok Post)
SELONG-Kecelakaan maut kembali terjadi di jalan raya Pusuk Sembalun, Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun, Rabu (13/7). Sebuah mobil jenis Datsun Go yang ditumpangi delapan orang terjun bebas saat hendak menuruni tanjakan pertama di depan Taman Wisata Pusuk Sembalun.

Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 11.00 Wita. Saat itu, mobil yang dikendarai Saharudin, 48 tahun, warga Desa Sembalun Timba, Kecamatan Sembalun diduga mengalami rem blong.

“Sehingga mobil tidak bisa dikendalikan dan terjatuh ke sisi sebelah kanan jalan sedalam kurang lebih 20 meter,” kata Kapolsek Sembalun AKP Lalu Panca Warsa pada Lombok Post.

Akibat kejadian tersebut, sopir dan dua orang penumpang yang duduk di kursi bagian depan meninggal dunia. Kata mantan Kasatlantas Polres Lobar itu, dua penumpang yang meninggal dunia lainnya bernama Sahmini, 70 tahun, dan seorang balita berinisial IR.

Sementara lima penumpang lainnya yang menurut keterangan sementara dijelaskan duduk di bagian belakang mengalami luka-luka. “Ketiga korban meninggal dunia, dan lima korban luka-luka sudah dilarikan ke Puskesmas Sembalun,” jelas Panca.

Menurut Panca, mobil jenis Datsun Go tersebut normalnya ditumpangi lima orang. Namun dengan jumlah kapasitas penumpang mencapai delapan orang bisa jadi mengakibatkan terjadinya over kapasitas yang menimbulkan masalah pada rem kendaraan tersebut.

Selain kelebihan penumpang, salah satu yang menjadi sorotan Panca adalah tidak adanya pembatas keamanan jalan atau guardrail di area Pusuk Sembalun. Padahal menurut catatannya, dalam tiga tahun terakhir sejak 2020, telah terjadi kecelakaan maut yang memakan korban di lokasi yang sama.

“Karena di TKP ini, sudah tiga kali mobil terjun bebas. Kalau ada pembatas jalan, setidaknya masih ada yang menahan laju kendaraan yang hilang kendali,” tutur Panca.

Kabid Perhubungan Darat Dinas Perhubungan Lombok Timur Lalu Purwadi menjelaskan tentang masih minimnya rambu-rambu lalu lintas di jalan Suela-Sembalun. Tidak hanya guardrail atau pagar pengaman jalan, tapi juga rambu-rambu lainnya yang dibutuhkan guna mengurangi angka kecelakaan di jalan berstatus milik negara tersebut.

Terkait pagar pengaman jalan, Kepala Bidang Pengembangan dan Teknologi

Dinas Perhubungan Lombok Timur Hadi Siswanto menjelaskan, sejak terjadi kecelakaan maut di Pusuk Sembalun pada 2020 lalu, pihaknya telah bersurat ke Badan Pengelola Tranportasi Darat (BPTD) Wilayah XII Provinsi Bali-NTB. Surat tersebut meminta agar pihak BPTD mengalokasikan anggaran pembangunan guardrail atau pagar pengaman jalan di jalur rawan tersebut.

“Namun hal ini belum ditindaklanjuti. Berita kejadian hari ini juga langsung kami teruskan ke sana. Agar bisa diatensi,” kata Siswanto.

Pada 2021 lalu, pihaknya bersama Satlantas Polres Lotim juga turun langsung meninjau kebutuhan rambu-rambu lalu lintas di jalur Suela-Sembalun. Tidak hanya guardline, ada beberapa rambu lainnya juga yang diminta. Kata Siswanto, termasuk penambahan lampu jalan atau Penerangan Jalan Umum (PJU).

Ditanya mengenai kemampuan daerah untuk memasang sendiri, Siswandi menjelaskan jika pemasangan tidak bisa serta merta dilakukan karena jalan tersebut bukan wewenang pemkab. Di sisi lain, anggaran yang dibutuhkan juga tidak sedikit.

Untuk guardrail sendiri, kurang lebih menghabiskan Rp 100 juta lebih. “Itu juga tergantung panjangnya,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#sembalun #kecelakaan maut #Lombok Timur #Pusuk