
LombokPost - Peternakan burung kicau tidak hanya soal hobi. Tetapi juga membutuhkan ketekunan, pengetahuan, dan modal yang tidak sedikit.
Peternak burung Murai, Ferry Vris mengatakan, sudah menekuni usaha ternak burung sejak 2010. Awalnya dari kecintaannya terhadap burung kenari hingga akhirnya mengembangkan ternak murai batu dan love bird.
“Awalnya saya hanya pelihara biasa. Lama-lama berpikir, kalau hanya memelihara apa serunya. Akhirnya saya membeli indukan betina dan mulai beternak untuk mempertahankan kualitas burung sekaligus menambah nilai ekonomi,” ujarnya.
Baca Juga: Potensi Sarang Burung Walet Belum Tergarap Maksimal
Seiring waktu, fokusnya beralih ke budi daya murai batu dan lovebird. Namun, menurutnya, beternak murai batu jauh lebih menantang dibandingkan jenis burung lainnya karena kebutuhan pakan dan perawatannya yang cukup rumit.
Murai batu merupakan burung pemakan serangga. Membutuhkan suplai pakan secara rutin. Jangkrik menjadi pakan utama, sementara anakan murai batu juga membutuhkan telur semut atau kroto sebagai sumber nutrisi.
“Kalau terlambat memberi pakan, resikonya besar. Bahkan induknya bisa memakan telur atau anakannya sendiri. Karena itu perawatan harus benar-benar diperhatikan,” kata pria yang akrab disapa Koko Feri itu.
Biaya pakan pun cukup tinggi. Dalam satu minggu, ia menghabiskan sekitar dua kilogram jangkrik dengan harga rata-rata Rp 60 ribu per kilogram. Belum termasuk vitamin dan kebutuhan perawatan lainnya. “Untuk pakan dan vitamin saja bisa menghabiskan sekitar Rp 700 ribu per bulan. Kalau tidak fokus, harus ada orang khusus yang menangani,” jelasnya.
Meski demikian, hasil penjualan anakan murai batu mampu membantu menutupi biaya operasional. Harga anakan murai batu saat ini berkisar Rp 1 juta untuk jantan dan Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu untuk betina. ”Sementara anakan dengan kualitas dan keturunan unggul bisa dihargai lebih tinggi,” terangnya.
Menurutnya, harga burung murai batu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seperti panjang ekor, kualitas suara, warna, hingga faktor genetik. Burung dengan warna mutasi seperti albino, panda, atau golden memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dan umumnya diburu kolektor tertentu.
“Kalau murai batu ekor panjang yang kualitas bagus bisa mencapai belasan juta rupiah. Ada juga jenis albino atau panda yang harganya sangat fantastis karena pasarnya khusus. Bisa sampai Rp 100 juta-an,” ujarnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




