Ketua Gema Alam NTB Haiziah Gazali menerangkan, tim ESN sebelumnya telah melakukan kegiatan jelajah sungai belimbing hingga muara sungai di Labuhan Haji. Dari penjelajahan tersebut, ditemukan pencemaran mikroplastik.
Terdapat sebanyak 152 partikel mikroplastik dalam 100 liter air, ratusan pohon plastik dan 5 produsen yang sampahnya mencemari sungai belimbing. “Ada PT Wings, PT Marimas Putra, PT Ajinomoto, PT Indofood, dan PT Unilever,” terang Haiziah atau yang akrab disapa Zicko pada Lombok Post.
Zicko menerangkan, kegiatan jelajah sungai belimbing bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan sungai dengan mengukur parameter fisika kimia dan kadar mikroplastik dalam air. Dalam hal ini, ia mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menyikapi persoalan tersebut.
Ia juga menerangkan jika seharusnya perempuan menjadi ujung tombak pengelolaan sampah di Lombok Timur. Hal ini membutuhkan adanya upaya edukasi. Mulai dari bagaimana perempuan dilibatkan dalam penyusunan kebijakan pengelolaan sampah, dan memiliki peran penting dalam pengendalian sampah plastik.
“Karena perempuanlah yang setiap hari berjibaku dengan sampah domestik,” terang Zicko.
Menurutnya, jika perempuan teredukasi tentang bahaya penggunaan plastik sekali pakai pada kesehatan dan lingkungan, maka volume sampah plastik sekali pakai bisa dikurangi di setiap rumah tangga.
Koordinator jelajah sungai belimbing Muhammad Juaini lebih menerangkan, jelajah sungai dilakukan dari Jumat (30/12) hingga Minggu (1/1). Hal itu bertujuan untuk mengidentifikasi dampak sampah plastik terhadap air sungai Belimbing dan melakukan kampanye mengajak komponen masyarakat di Selong dan Lotim untuk ikut menjaga sumber daya air dari sampah plastik.
Dari jelajah sungai tersebut, ditemukan beberapa fakta baru. Di antaranya, pertama tidak tersedianya tempat sampah dan sistem pengelolaan sampah yang memadai pada tiap kelurahan/desa. Hal itu menyebabkan warga Lotim memilih membuang sampah ke sungai.
Kedua, rendahnya kepedulian warga pada pentingnya fungsi sungai dan acuh pada dampak lingkungan sampah. Pihaknya menemukan tidak sedikit warga yang menjadikan sungai sebagai bak sampah.
Kata Juaini, sampah yang tercecer ditepi sungai terbawa arus menuju ke hilir hingga ke Labuhan Haji. “Sampah yang banyak kami jumpai adalah sachet atau kemasan kecil sebuah produk. Selain itu banyak juga sampah pakaian, sikat gigi, korek api, sandal sepatu, ban motor, plastik mika, dan popok,” terangnya.
Salah seorang tim jelajah sungai Prigi Arisandi menerangkan, mikroplastik merupakan partikel plastik yang berukuran kurang dari 5 milimeter. Mikroplastik umumnya terbentuk dari fragmentasi atau pecahan plastik ukuran besar seperti plastik sekali pakai, yakni tas kresek, Styrofoam, sedotan, botol plastik, sachet, dan popok.
Dalam proses pengujian, tim mengambil 100 liter air di dua lokasi yang mewakili upstream dan downstream, yakni Sekarteja dan Labuhan Haji. “Di Sekarteja kami menemukan 260 partikel mikroplastik dalam 100 liter air sedangkan di Labuhan Haji kami menemukan 54 partikel mikroplastik dalam 100 liter air. Sehingga rata-rata dalam 100 liter air sungai Belimbing terdapat 152 partikel mikroplastik,” ungkap Prigi.
Hal itu membaut tim memastikan jika air di sungai dan muara pantai Labuhan Haji terkontaminasi mikroplastik dengan kadar khlorin 0,05 ppm dan phospat 1,7 ppm melebihi baku mutu. Kata Prigi, dalam PP 22 tahun 2021 tentang penyelenggaraan Pengelolaan Lingkungan hidup, kadar khloring tidak boleh lebih dari 0.03 ppm.
“Sedangkan Phospat tidak boleh lebih dari 0,3 ppm. Sumber phospat berasal dari detergen sedangkan khlorin berasal dari senyawa pembersih, pemutih, dan pestisida,” tuturnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita