“Lato-lato sebenarnya tidak mengandung nilai edukasi sama sekali. Namun baik untuk merangsang kesesuaian antara otak dengan gerakan. Dalam hal ini ketangkasan,” kata Habib pada Lombok Post, Minggu (8/1).
Pada dasarnya, lato-lato sama halnya dengan permainan anak musiman pada umumnya. Seperti layang-layang, kelereng, gambar, dan permainan anak lainnya. Namun lato-lato menjadi berbeda karena trendnya nasional. Tidak hanya dimainkan anak-anak, tetapi juga orang dewasa.
“Bahkan sampai presiden dan kapolri juga kita lihat sempat memainkan lato-lato ini,” tuturnya.
Sebenarnya, di luar dampak negatifnya menimbulkan suara bising di sebuah lingkungan, baik sekolah maupun tempat tinggal anak. Namun lato-lato telah mampu mengurangi intensitas anak bermain gadget. Kata Habib, tentu dari pada merunduk seharian, sampai mata berair untuk main game di gawai mereka, anak-anak diselamatkan oleh lato-lato.
Memang permainan ini bisa dikaitkan dengan banyak hal. Namun dalam dunia pendidikan, doktoral pendidikan yang desertasinya mengangkat tentang pendidikan perdamaian ini menyebut lato-lato sama sekali tidak mengandung nilai edukasi.
“Ya selain secara psikologis mampu melatih motorik, kecepatan, juga ketangkasan anak tadi,” tuturnya.
Di beberapa daerah di pulau Jawa dikabarkan sudah ada aturan yang tidak membolehkan anak membawa lato-lato ke sekolah. Menurut Habib hal itu tergantung dari guru di sekolah. Karena tidak mungkin anak akan memainkan lato-lato pada saat jam pembelajaran. Melainkan lato-lato dimainkan di rumah sepulang mereka dari sekolah.
“Kecuali jika lato-lato dimainkan pada jam pembelajaran dan juga jam istirahat di sekolah,” jelasnya.
Ia menegaskan kembali, di luar banyak pandangan terhadap lato-lato yang sedang viral di mana-mana, lato-lato ada baiknya jika dipandang sebagai media alternatif untuk mengurangi intensitas anak bermain gadget. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita