Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengenal Grup Kecimol Tunggal Mas di Desa Danger, Kecamatan Masbagik

Rury Anjas Andita • Selasa, 24 Januari 2023 | 14:00 WIB
TUNJUKKAN: Kepala MTsN 4 Loteng Lalu Muhammad Khairi Asmuni saat menunjukkan piagam penghargaan juara satu lomba karate, Sabtu (22/1). (Dedi/Lombok Post)
TUNJUKKAN: Kepala MTsN 4 Loteng Lalu Muhammad Khairi Asmuni saat menunjukkan piagam penghargaan juara satu lomba karate, Sabtu (22/1). (Dedi/Lombok Post)
KECIMOL merupakan kesenian tradisional cilokaq yang mendapat sentuhan alat musik modern. Gabungan antara musik tradisi dan modern yang lahir di Masbagik ini membuat cilokaq memiliki ciri khas tersendiri. Di Masbagik, Cilokaq Tunggal Mas merupakan satu dari banyak grup cilokaq yang mewarnai sejarah perkembangan kesenian ini.

----

Haji Lalu Istina Afandi memperlihatkan sejumlah foto pertunjukan cilokaq Tunggal Mas. Mulai dari para personilnya, alat musik dan sound sistem yang digunakan, sampai dengan kerumunan warga yang menonton pertunjukan mereka.

“Saya mendirikan grup cilokaq tunggal mas ini pada sekitar tahun 2000-an,” kata Lalu Istina atau yang akrab disapa Mamik Is pada Lombok Post.

Saat itu ia baru saja kembali ke Masbagik setelah cukup lama bertugas menjadi guru negeri di Sambelia. Di tempat sebelumnya, ia juga mendirikan sebuah grup cilokaq bernama Reramputan. Nama itu terinspirasi dari warga Sambelia yang terdiri dari banyak pendatang.

Di Masbagik, tepatnya di Dusun Danger Utara, Desa Danger, Kecamatan Masbagik, ia membuat nama Tunggal Mas karena pada saat itu tidak ada satupun grup cilokaq yang hidup di Masbagik atau bahkan di Lotim.

“Tunggal itu kan satu. Jadi waktu itu kami satu-satunya grup yang ada dengan sound sistem yang baru. Waktu itu kalau pernikahan orang kebanyakan menggunakan gendang beleq,” kenangnya.

Kecimol sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Kesenian Cilokaq Modern Lombok. Ia mengatakan, kecimol didirikan oleh seorang warga Masbagik bernama Ishaq pada sekitar tahun 1980-an. Kala itu nama grup kecimolnya adalah esot-esot. Jika dirunut, tunggal mas baginya merupakan generasi ke lima dari sejak berdirinya.

Dalam perkembangannya, grup kecimol Tunggal Mas dibuat menjadi sanggar seni Tunggal Mas. Di mana dalam sanggar seni tunggal mas, tidak hanya kecimol saja yang ada, melainkan juga cilokaq tradisional, organ tunggal, dan hadroh (salawatan).

Mamiq Is yang merupakan ketua DPC Asosiasi Kecimol (AK) NTB menerangkan, kecimol tunggal mas yang berdiri di tengah tidak adanya kecimol pada saat itu menarik perhatian banyak pihak. Lambat laut, kelompok lain yang sebelumnya mati suri atau vakum pun bangkit kembali.

Begitu juga dengan yang belum berdiri. Sekarang, sudah ada sekitar 120 lebih grup kecimol di Lotim. 72 di antaranya sudah tergabung dalam asosiasi kecimol NTB. “Di Kecamatan Masbagik sendiri ada sekitar 11 grup,” tuturnya.

Mamik Is percaya, kecimol yang banyak digemari masyarakat Sasak dan bahkan sampai ke pulau Sumbawa perlahan akan terus mengalami perkembangan. Apalagi jika melihat peminatnya, dampak ekonomi, juga pemberdayaan bagi pemuda potensial atau memiliki kemampuan dalam bermain musik.

Di sanggar seni Tunggal Mas sendiri, yang tergabung sebagai personel tidak hanya dari Masbagik, melainkan dari sejumlah wilayah Lotim. “Bahkan ada juga yang dari luar Lotim,” jelasnya. (tih/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#musik tradisional #Masbagik #kecimol #Desa Danger