Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kuota Berkurang, Dinas Pertanian Dorong Petani Manfaatkan Pupuk Organik

Supardi/Bapak Qila • Jumat, 29 September 2023 | 08:55 WIB

 

Seorang petani mengecek tanaman tomat di lahan miliknya, belum lama ini.
Seorang petani mengecek tanaman tomat di lahan miliknya, belum lama ini.

LombokPost-Dinas Pertanian Lombok Timur (Lotim), mendorong petani untuk menggunakan pupuk organik. Sebagai upaya menyiasati mahalnya harga dan terbatasnya kuota pupuk yang didapatkan tahun ini.

”Terkait pupuk subsidi dan non subsidi, baik yang non organik atau organik itu merupakan kebijakan dari pusat,” terang Kepala Dinas Pertanian Sahri.

Distan Lotim sudah mengusulkan kuota pupuk sesuai dengan jatah atau kebutuhan petani. Tetapi jatah yang turun dari pemerintah pusat tahun ini berkurang.

Salah satu cara untuk mengatasi kurangnya kuota jatah pupuk subsidi adalah dengan menggunakan pupuk non subsidi. Meski dari sisi harga, pupuk non subsidi terbilang cukup tinggi.

”Iya karena kalau yang tidak subsidi ada, walaupun memang harganya lumayan mahal dari yang subsidi,” katanya.

Alternatif lain yang ditawarkan untuk mengatasi kekurangan dan mahalnya harga pupuk adalah, menggunakan pupuk organik. Selain harga yang murah, pupuk organik juga dinilai memiliki banyak kelebihan. Selain untuk tanaman, juga bisa untuk memperbaiki struktur dan tekstur lahan, sehingga tanah akan menjadi lebih subur.

”Memang penggunaan awal untuk pupuk organik itu sangat tinggi, tapi lama-lama akan semakin berkurang. Beda dengan pupuk non organik penggunaan awal sedikit tapi lama-lama akan semakin banyak, dan jika tidak berimbang akan merusak struktur lahan itu sendiri,” jelasnya.

Berdasarkan elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK), dari jumlah pupuk kebutuhan pupuk yang telah dilakukan, untuk pupuk Urea sebanyak 37.047 ton, yang terealisasi hanya sebanyak 17.961 ton. Kemudian pupuk NPK dari 52.408 yang diajukan, yang terealisasi hanya 584 ton, sedangkan untuk pupuk NPK Formula dari 259 ton menjadi 279 ton.

”Jadi memang masih banyak kekurangan. Tapi kami tidak berbicara terkait kekurangan ini. Yang paling penting itu bagaimana memberikan solusi, salah satunya dengan menggunakan pupuk organik,” ungkapnya.

Terpisah, salah seorang petani nanas asal Desa Lendang Nangka Sumarni menyampaikan harga pupuk tahun ini dinilai lebih mahal dari tahun sebelumnya. Untuk pupuk urea saat ini dibeli dengan harga Rp 600 ribu per kuintal, dibandingkan dengan tahun sebelumnya hanya sekitar Rp 450-500 ribu per kuintal.

Sedangkan untuk pupuk ZA saat ini dibeli dengan Harga Rp 700 ribu per kuintal, sedangkan pada tahun lalu harganya Rp 600-650 per kuintal. Mahalnya harga pupuk ini banyak dikeluhkan, tidak hanya petani nanas namun juga petani-petani yang lain. 

”Apa lagi kami harus melakukan pemupukan 2-3 kali dalam satu musim nanas, belum biaya obat lainnya,” pungkasnya. (cr-par/r11)

Editor : Akbar Sirinawa