Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Terus Alami Penurunan, Jumlah Stunting di Lotim Tersisa 18.808 Jiwa

Supardi/Bapak Qila • Jumat, 10 Mei 2024 | 15:23 WIB
H Ahmat
H Ahmat

LombokPost--Jumlah kasus stunting di Lombok Timur (Lotim) terus menurun.

Berdasarkan data Elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) tertanggal 29 Februari 2024 ini, jumlahnya di Lotim tersisa 18.808 jiwa atau sekitar 15,9 persen. 

"Tahun ini turun lagi kasus stunting kita. Berdasarkan e-PPGM kasus Stunting kita tinggal 15,9 persen atau sekitar 18.808 jiwa lagi," terang H Ahmat Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim, Kamis (9/5). 

Angka tersebut menurun dari kasus stunting pada akhir 2023 yang mencapai 16,18 persen.

Bahkan jumlah ini jauh lebih rendah dari angka nasional yang mencapai 21,6 persen.

Sedangkan berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), angka stunting Lotim saat ini mencapai 27,6 persen pada 2023. 

Dengan tren penurunan setiap tahun ini, DP3AKB Lotim optimis target 14 persen yang menjadi target nasional tahun ini bisa tercapai. 

“Kalau versi e-PPGBM kita optimis mencapai target. Kalau SKI kan masih jauh sekali angkanya,”katanya. 

Ia mengungkapkan, salah satu faktor terbesar penyebab terjadinya stunting adalah minimnya capaian program KB pascasalin.

Di mana jarak melahirkan sangat dekat sehingga hal itu berpotensi menimbulkan stunting.

Sedangkan penurun kasus stunting ini tidak terlepas dari sejumlah program yang telah digalakkan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat.

Seperti Dapur Sehat (Dashat), pendampingan keluarga rentan dan tingkat keaktifan masyarakat dalam memeriksakan diri ke Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) Keluarga. 

Terpisah Kepala Dinas Kesehatan Lotim H Pathurrahman menambahkan setiap tahun angka stunting Lotim terus mengalami penurunan.

Termasuk posisi Lotim juga terus menurun.

Pada tahun 2021 lalu, Lotim menduduki posisi pertama dengan kasus stunting.

Kemudian pada tahun 2022 menduduki posisi kedua.

Selanjutnya pada tahun 2023 menduduki posisi tiga dan tahun 2024 menduduki posisi kempat tertinggi dari 10 kabupaten/kota di NTB. 

Kata dia, kunci penurunan angka stunting ini ada pada kompergensi, intervensi spesifik, intervensi sensitif dan Keterpaduan kepada sasaran fokus stunting yakni ibu hamil dan anak bawah dua tahun (baduta).

Termasuk Penurunan stunting ini juga tidak terlepas dari fokus Bupati Lotim, baik dari bupati sebelumnya maupun PJ Bupati. 

"Stunting ini kan menjadi fokus dari PJ Bupati, bahkan dari sejak bupati sebelumnya, yang didukung oleh semua stakeholder dan masyarakat," katanya. 

Faktor lain yang sangat berpengaruh dalam penurunan stunting adalah tingkat keaktifan masyarakat untuk memeriksakan diri ke pos pelayanan terpadu (Posyandu) keluarga.

Sebab keberadaan Posyandu dapat melakukan deteksi dini kepada ibu hamil terutama terkait imunisasi. 

Selain itu, keberadaan USG di semua Puskesmas juga sangat membantu untuk melihat kondisi janin ibu hamil dan deteksi dini penyakit.

Jika ditemukan penyakit maka langsung dikonsultasikan dengan dokter spesialis. 

"Kalau sebelumnya kita belum punya USG di puskesmas, jadi agak sulit untuk melihat kondisi janin. Kalau sekarang bisa langsung dipantau dipuskemas. Kalau ada penyakit kita kan tindak lanjuti langsung," Tandasnya. (cr-par)

Editor : Kimda Farida
#Pemkab Lotim #Stunting