Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Harga Lobster di Lotim Anjlok, Kadis DKP Hanya Bisa Prihatin

Supardi/Bapak Qila • Kamis, 1 Agustus 2024 | 18:04 WIB
TANGKAP: Pembudi daya di kampung Telong-elong Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, saat menangkap lobster di keramba apung, belum lama ini. (SUPARDI/LOMBOK POST)
TANGKAP: Pembudi daya di kampung Telong-elong Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, saat menangkap lobster di keramba apung, belum lama ini. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost-Beberapa bulan terakhir ini, harga Lobster di Lombok Timur (Lotim) menurun.

Kondisi ini mengakibatkan pembudi daya lobster di Kampung Lobster, Telong-elong Kecamatan Jerowaru menunda untuk menjual lobsternya.

”Murah sekarang. Kalau kita jual tentu rugi. Kami juga tidak tahu penyebab turunnya harga lobster ini,” terang Amaq Zen, salah satu pembudi daya Lobster di kampung Lobster di Telong-elong, Rabu (31/7).

Saat ini, harga lobster pasir hanya Rp 200 ribu per kilogram. Turun hampir separuh dari harganya sebelumnya di angka Rp 350 ribu hingga Rp 450 ribu per kilogram.

Begitu juga dengan lobster mutiara. Sekarang harganya anjlok menjadi Rp 350 ribu dari sebelumnya yang bisa mencapai Rp 700 ribu per kilogram.

Menurutnya, jika lobster dijual sekarang dipastikan pembudi daya akan merugi. Terlebih modal budi daya lobster cukup besar. Minimal persiapan budi daya harus memiliki modal sebesar Rp 50 juta.

”Harga bibit paling kecil sekarang Rp 15 ribu per ekor. Paling besar yang jenis pasir Rp 25 ribu per ekor dan mutiara Rp 40 ribu-Rp 59 ribu per ekor. Ditambah lagi dengan harga pakan yang  mahal. Per bak sekarang Rp 150 ribu,” katanya.

Adanya bantuan keramba dari pemerintah diakui cukup membantu para pembudi daya. Namun diharapkan pemerintah tidak hanya memberikan bantuan keramba jaring apung, tapi diharapkan bisa menormalkan harga lobster.

”Mudah-mudahan kita juga bisa dibantu agar harga lobster ini kembali semula, supaya bisa untung,” tutup Amaq Zen.

Anjloknya harga penjualan lobster, tak banyak mendapat atensi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

Kadis DKP Muhammad Zainuddin bahkan hanya bisa prihatin dengan kondisi tersebut. Tanpa mengetahui apa penyebab harga anjlok dan bagaimana solusi konkret dari pemerintah.

”Mungkin ada potensi pasar ekspor ke Timur Tengah atau Eropa atau ke negara-negara lain,” ujarnya.

Disebutkan, lobster yang dihasilkan dari Kampung Lobster Lotim kualitas cukup bagus. Bahkan lobster jenis mutiara memiliki harga cukup mahal serta menjadi primadona.

Untuk itu diharapkan harganya kembali normal agar pembudi daya bisa untung.

”Dari Kampung Lobster di Lotim saat ini mampu produksi sampai 120 ton per tahun. Jumlah ini akan terus meningkat seiring dengan perluasan kawasan tempat budi daya,” tandasnya. (par/r11)

Editor : Kimda Farida
#Lotim #Lobster