LombokPost--Puluhan sumur gali warga Desa Surabaya, Kecamatan Sakra Timur, mulai mengering akibat kemarau. Kondisi ini mengakibatkan warga kesulitan mendapatkan air bersih.
”Agustus kemarin sampai sekarang, air sumur kami sudah kering kerontang,” terang Nuraini, salah seorang warga Desa Surabaya, Senin (2/9).
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, ia bersama warga lain membeli air tangki dengan harga mulai dari Rp 50 ribu-Rp 80 ribu per tangki.
Satu tangki air hanya bisa memenuhi kebutuhan keluarga sampai lima hari.
Air tangki yang dibeli ini juga hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci saja. Sementara untuk kebutuhan minum dan memasak, masyarakat harus membeli air isi ulang.
”Hampir semua sumur warga di wilayah ini sudah mengering. Mungkin dalam satu RT itu hanya satu orang yang masih berair sumurnya. Itu pun debitnya sudah sangat kecil,” katanya.
Tidak hanya air sumur, air PDAM saat ini juga sudah tidak mengalir. Kata dia, persoalan ini terjadi setiap tahun. Terutama Agustus-Desember masyarakat selalu mengalami kesulitan air bersih. Untuk itu, persoalan ini diharapkan segera direspons pemda.
”Mudah-mudahan pemerintah bisa bantu kami. Karena setiap lima hari kami harus beli air untuk mencuci dan mandi. Air PDAM memang ada yang datang tapi kecil, kayak kencing anak kecil,” tandasnya.
Kepala Desa (Kades) Surabaya Rifai Pajrin mengaku, dirinya tidak mengetahui banyak sumur warga yang kering akibat kemarau.
Namun setelah turun ke lapangan, terdapat tiga titik lokasi sumur warga yang kering kerontang.
”Setelah saya cek ke lapangan, rata-rata sumur warga sudah kering, sama sekali tidak ada airnya,” ungkapnya. (par/r11)
Editor : Kimda Farida