Masyarakat Desa Montong Betok, Kecamatan Montong Gading menggelar ritual Selametan Reban.
Ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat setempat atas nikmat Tuhan berupa mata air yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Berikut ulasannya.
-------------------
Alunan musik mengiringi langkah gadis-gadis desa bersama sejumlah tokoh agama.
Mereka hendak menuju sumber mata air Otak Reban.
Puluhan masyarakat ini hendak melakukan ritual Selametan Reban (selamatan mata air, Red).
Selametan Reban diawali dengan memotong ayam kampung.
Ratusan ekor jumlahnya. Pemotongan dilakukan tokoh adat, kemudian setelah itu, ayam dipanggang di sepanjang aliran sungai.
Acara kemudian dilanjutkan dengan zikir dan doa bersama, kemudian ditutup dengan acara makan-makan di dekat mata air.
Kepala Desa Montong Betok Dian Asmara Desa menyampaikan, Selametan Reban merupakan tradisi masyarakat desa.
Setiap tahun dilakukan menjelang musim tanam dan musim hujan tiba.
”Ritual ini sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan kepada kami. Salah satunya berupa mata air yang tetap mengalir sepanjang masa,” jelas Dian, Minggu (13/10).
Baca Juga: Tes SKD Calon ASN di Mataram Diundur ke November
Selametan Reban juga dilakukan untuk meminta kepada Tuhan, agar masyarakat dan petani selalu diberikan keberkahan, berupa hasil pertanian yang melimpah hingga tanaman yang terbebaskan dari hama.
Kata dia, mata air Otak Reban selama ini tidak pernah kering, meskipun di tengah kemarau melanda.
Debit airnya tetap stabil, sehingga sehingga petani di Desa Montong Betok tetap bisa bercocok tanam.
”Alhamdulillah airnya tetap mengalir, tidak pernah kering sepanjang tahun. Makanya ritual ini sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan berupa sumber mata air yang tetap mengalir sepanjang tahun,” ungkapnya.
Selain air yang terus mengalir, hasil pertanian masyarakat dari tahun ke tahun tetap melimpah, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.
Meskipun diakui harga dan ketersediaan pupuk kerap menjadi persoalan bagi petani setiap musim tanaman.
Melalui ritual ini, diharapkan juga mencegah tanaman milik petani dari penyakit dan hama. Sehingga hasil produksi terus meningkat dan lebih baik.
Ritual ini menjadi simbol harapan bagi masyarakat untuk masa depan pertanian yang lebih baik.
Mengingat sebagian besar masyarakat Desa Montong Betok menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.
”Kami harap mata air ini dapat dijaga dan dirawat masyarakat, karena mata air ini menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat Desa Montong Betok dan sekitarnya,” ungkapnya.
Ini sekaligus sebagai bentuk komitmen masyarakat untuk menjaga tradisi dan melestarikan budaya yang ditinggalkan nenek moyang.
Sehingga menjadi momentum penting untuk memperkuat tali persaudaraan antar masyarakat. (Supardi/r11)
Editor : Kimda Farida