Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Musim PMK, Peternak Lombok Timur Berharap Harga Ternak Tak Anjlok

Supardi/Bapak Qila • Senin, 27 Januari 2025 | 06:20 WIB

 

MAKAN: Sejumlah sapi ternak di kandang Kolektif milik kelompok ternak yang ada di Lingkungan Renco, Kelurahan Kelayu Jorong saat menyantap pakan.
MAKAN: Sejumlah sapi ternak di kandang Kolektif milik kelompok ternak yang ada di Lingkungan Renco, Kelurahan Kelayu Jorong saat menyantap pakan.
 

PETERNAK di Lombok Timur (Lotim) merasa khawatir dengan kembali ditemukannya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi ternak di Indonesia, tak terkecuali di Lotim. Mengingat PMK  tidak hanya berdampak terhadap kesehatan hewan, namun sangat berdampak terhadap harga sapi. “Kami berharap sejarah tahun lalu tidak sampai kembali terjadi. Di mana saat itu banyak peternak yang melelang sapi ternaknya dengan harga yang sangat murah,” terang Unasih Kepala Desa Lenek Daya sekaligus peternak.

Kata dia, saat terjadi PMK peternak terpaksa menjual ternaknya dengan harga murah. Sapi yang seharusnya dijual dengan harga Rp 15-20 juta per ekor. Namun karena terserang PMK terpaksa dijual dengan harga Rp7-8 juta per ekor.

Kondisi itu diakui sangat merugikan peternak. Di satu sisi jika tidak dijual peternak rugi total karena sapi terancam mati terserang PMK.

Saat ini, harga ternak dinilai masih cukup bagus. Harga sapi saat ini sebesar Rp 48-52 ribu per kilogram untuk sapi hidup. “Mudah-mudahan isu PMK ini tidak membuat harga ternak kembali anjlok. Karena cukup kami merasakan tahun lalu bagaimana pahitnya saat PMK,” bebernya.

Di Desa Lenek Daya saja, jumlah populasi ternak mencapai 3.000 ekor. Dengan jumlah peternak mencapai 1.500 kepala keluarga (KK) dari total KK sebanyak 2000 KK. Sehingga jika PMK kembali terjadi sangat berpengaruh terhadap perekonomian warga, yang sebagian besar sebagai peternak.

Belajar dari kasus tahun lalu, Pemdes setempat telah melakukan berbagai langkah antisipasi PMK, dengan melakukan pemberian vaksin, obat-obatan, vitamin pada ternak, penyemprotan disinfektan pada kandang. “Bahkan kami sudah mengalokasikan anggaran untuk jasa vaksinasi bagi hewan ternak warga,” pungkasnya.

Zikrillah ketua kelompok Peternak As Sofwa, Lingkungan Renco, Kelurahan Kelayu Jorong, Kecamatan Selong, juga mengaku sangat khawatir. “Pasti akan berimbas terhadap harga sapi. Sekarang harganya masih bagus sekitar Rp 48 ribu per kilogram yang hidup,” bebernya.

Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner (Kesmavet) Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lotim drh. Hultatang menyampaikan jumlah populasi sapi di Lotim saat ini mencapai 140 ribu ekor. Jumlah ini terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemunculan PMK di Pulau Jawa saat ini diakui menjadi ancaman bagi peternak. “Kemunculan penyakit pada ternak tidak terlepas dari lalu lintas ternak. Apa lagi kita  menjadi lokasi pasar ternak terbesar di NTB,” tutupnya. (par/r6)

Editor : Rury Anjas Andita
#penyakit #harga #sapi #PMK #Lotim #NTB #peternak #terancam #Hewan Ternak