LombokPost-Dinas Kesehatan Lombok Timur (Lotim) mencatat penyakit pneumonia dan diare menjadi penyakit terbesar penyumbang kematian pada anak. Tercatat pada tahun 2024 lalu 13 kasus kematian pada anak akibat pneumonia. Dengan 12 kasus merupakan anak di bawah satu tahun dan satu kasus di usia 1-5 tahun. “Jadi pneumonia ini menjadi momok yang cukup berbahaya bagi anak-anak kita di Lotim,” terang Kabid P3KL Dinas Kesehatan Lotim Budiman Satriadi, Jumat (14/2).
Selain itu, penyakit yang cukup tinggi ditemukan pada anak sepanjang 2024 ialah kasus diare dengan 154 kasus dan dua orang dinyatakan meninggal dunia.
Disebutkan, penyebab utama kemunculan kasus pneumonia ialah kondisi lingkungan yang kurang terjaga. Seperti lembab, banyak asap di rumah dan tidak memiliki saluran udara atau jendela. Sehingga sangat berpengaruh terhadap saluran pernapasan anak. “Pneumonia ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Untuk itu kami harap masyarakat betul-betul bisa menerapkan pola hidup bersih. Terutama menghindari anak-anak, terutama bayi dari asap rokok,” ujarnya.
Turut dijelaskan, untuk kasus TBC pada anak tahun 2024 ditemukan 180 kasus, namun tidak ada anak yang meninggal. Menurutnya, kasus TBC dan pneumonia yang ditemukan di Lotim tahun 2024 ini diakui masih sangat sedikit disbanding yang sebenarnya ada. Hal ini karena masih kurangnya pemahaman masyarakat terkait gejala-gejala dan bahayanya. “Harapan kami kepada masyarakat apabila ada keluarga, tetangga yang mengalami batuk yang lama, silahkan periksa ke Puskesmas. Kami harap kasus ini lebih banyak ditemukan sehingga kita bisa antisipasi,” tutupnya.
Perwakilan UNICEF NTB-NTT dr Vama Chrisna Taolin menyoroti pemahaman masyarakat terkait penyakit ini sangat kurang, sehingga sering diabaikan. “Bahkan masyarakat juga kerap menggapai bahwa penyakit diare merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangan anak. Padahal hal itu mengakibatkan kesehatan anak menjadi menurun, terutama dari sisi asupan makanan dan pola hidup,” bebernya. (par/r6)
Editor : Rury Anjas Andita