LombokPost-Dalam rangka menurunkan angka stunting di NTB khususnya di Lombok Timur (Lotim), Pemkab Lotim terus menggencarkan program orang tua asuh atasi stunting (Genting). Program ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari pihak swasta, perusahaan, masyarakat, LSM, dan pihak-pihak lainnya untuk terlibat aktif dalam pendampingan dan pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak yang berisiko stunting.
“Kita terus melakukan evaluasi dan pendampingan berkelanjutan agar angka stunting nasional terus menurun,” terang perwakilan BKKBN NTB Lalu Makripuddin, saat acara pembinaan PKB/PLKB Kecamatan Pringgabaya, Rabu (19/3).
Program Genting ini dirancang untuk memberikan pendampingan selama dua tahun kepada sasaran, baik keluarga stunting maupun anak stunting. Para orang tua asuh diharapkan dapat memberikan bantuan nutrisi, edukasi, dan perbaikan tempat tinggal jika diperlukan.
Perusahaan-perusahaan yang ada di daerah diharapkan menjadi orang tua asuh, sehingga di lingkungan perusahaan tidak ada kasus stunting. Sejauh ini sudah beberapa perusahaan swasta telah aktif menjadi orang tua asuh dan mulai memberikan bantuan makanan.
“Alhamdulillah salah satu perusahaan di kecamatan Pringgabaya telah bergabung menjadi orang tua asuh, dan banyak perusahaan lainnya yang juga sudah terlibat,” bebernya.
Pendamping orang tua asuh ini ditargetkan minimal tiga bulan. Tiga bulan cukup efektif untuk melihat perkembangan berat badan anak stunting. Jika intervensi gizi dilakukan secara intensif selama tiga bulan, akan memberikan perubahan pada berat badan anak.
Kendati demikian, pihaknya mendorong para orang tua asuh bisa memberikan pendampingan sampai anak berusia dua tahun. Ini bertujuan agar tumbuh kembang anak bisa lebih optimal. Sejauh ini, jumlah orang tua asuh yang telah terlibat sebanyak 7.000 orang dari target sebanyak 38.000 di NTB.
“Kami akan terus berupaya untuk mencapai target itu, dengan melibatkan semua pihak, mulai dari pemerintah, LSM, perusahaan, hingga individu. Kami optimis, dengan kerja sama ini, kita bisa menuntaskan masalah stunting di Indonesia,” pungkasnya.
Sementara Kepala DP3AKB Lotim H Ahmat menambahkan tugas PLKB, diharapkan sebagai pendamping keluarga resiko stunting. Namun juga diharapkan dapat menjadi motivator dalam pencegahan kekerasan seksual terhadap anak dan perempuan.
“Peran PKB/PLKB tidak hanya menjadi tim pendamping, namun juga bisa mencegah kekerasan seksual tetapi anak dan perempuan. Karena tugas PLKB sekarang semakin luas,” katanya.
Selain itu, diharapkan PLKB juga fokus pada pendataan dan intervensi stunting di tingkat desa dan dusun. Ditargetkan dalam tiga bulan pertama, di 21 kecamatan PLKB bisa menyasar 11.000 kepala keluarga (KK) dengan evaluasi yang ketat.
Data yang dikumpulkan dari kecamatan akan menjadi dasar untuk gerakan orang tua asuh memberikan pendampingan, mulai dari pemberian nutrisi, makanan dan lainnya.
“Kita akan libatkan perusahaan-perusahaan lokal, seperti tambak udang di Pringgabaya dan jaringan ritel modern seperti Alfamart, sebagai orang tua asuh. Ini menunjukkan pendekatan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta,” katanya.
Dengan begitu, penanganan stunting di Lotim akan berada di atas rata-rata nasional, yang saat ini berada di angka 13,9 persen. Ia mengaku optimisme dengan langkah ini target itu akan tercapai dan dapat mengurangi angka stunting. (par)
Editor : Pujo Nugroho