Senin Apriadi merupakan salah satu pelukis di Gumi Selaparang, Lombok Timur (Lotim).
Pahit manis menjadi pelukis telah dilalui.
-------------------------------------
Puluhan lukisan, mulai dari berukuran kecil hingga jumbo terpajang di sebuah ruangan sederhana.
Sebagian lukisan dibiarkan tergeletak begitu saja bersama potongan kanvas dan kayu-kayu kecil.
Beberapa lukisan terlihat masih setengah jadi dan beberapa sudah dipasangkan bingkai.
Terlihat sebagian lukisan telah berumur cukup lama, dan beberapa lukisan juga masih baru.
Lukisan dengan gambar alam, wayang, dan lainnya membuat ruangan sederhana itu sangat estetik, meskipun sedikit berantakan.
Di ruangan sederhana inilah, Senin Apriadi pelukis asal lingkungan Seruni, Kelurahan Selong, Kecamatan Selong, Lombok Timur (Lotim) menghabiskan waktunya.
“Kalau sekarang hanya di rumah saja. Di sini saja setiap hari. Mulai dari melukis dan membuat bingkai pesanan. Kalau ada event live painting, baru saya ke luar,” terang Senin Apriadi saat ditemui di rumahnya, Minggu (13/4).
Pria kelahiran 1959 ini menceritakan, sejak duduk di bangku SD bakat menggambarnya sudah mulai terlihat, dan sejak itu ia senang sering mencoret-coret.
Meski pun pada saat itu, perlengkapan melukis belum memadai.
Pada tahun 1976 ia dilirik oleh salah seorang pemilik bioskop, dan bekerja di bioskop sebagai tukang gambar film dan menulis spanduk.
Menggunakan bahan seadanya seperti tripleks dan kertas manila, menggunakan pewarna kue yang hanya beberapa warna.
“Tapi saat itu saya belum fokus dan percaya diri menjadi seorang pelukis,” kenangnya.
Diceritakan, dirinya sempat aktif di dunia olahraga. Mulai dari, karate, catur, sepakbola dan lainnya.
Bahkan pada tahun 1985-1990 dirinya merupakan salah satu atlet catur asal Lotim. Selain itu dirinya juga sempat menjadi pelatih sepak bola, juga di Lotim.
“Saat itu saya melatih bola sambil melukis. Meski pun tahun 1980 itu kita sudah mengenal banyak warna dan sudah bergabung di salah satu sanggar,” katanya.
Pada awal tahun 1990, ia kemudian memutuskan berhenti menjadi atlet catur dan fokus melukis.
Meski pun saat itu dirinya masih mengemban amanah sebagai pelatih sepak bola.
Bahkan dirinya sat itu juga sempat bolak balik Lombok-Bali untuk melukis dan jual lukisan.
Dari sana, diakui bakat melukis dan karyanya banyak dilirik oleh pencinta seni lukis. Meski pun saat itu lukisannya dijual di pasaran dan harganya masih sangat murah.
“Untuk betul-betul menjadi pelukis itu saya berproses selama 13 tahun lebih, saya matangnya di Tanjung Luar. Karena saya sering melukis di Tanjung Luar di dermaga,” bebernya.
Pahit manis menjadi pelukis sudah habis dilalui, berbagai pameran telah diikuti.
Ratusan lukisan telah dijual. Satu lukisannya dibandrol dengan harga Rp 5-10 juta.
“Paling mahal Rp 10 juta, itu lukisan perahu diambil oleh wisatawan dari Kanada,” ungkapnya.
Sebelum pandemi adalah tahun kejayaan di dunia seni lukis, berbagi pameran telah diikuti dan ratusan lukisan terjual.
Namun setalah pandemi, dirinya hanya fokus bekerja di sanggar Dame Kampas miliknya. Untuk melukis, menjual alat dan bahan melukis, dan bingkai.
Selain itu dirinya juga membuka pelatihan melukis di rumahnya. Banyak anak-anak SMK maupun SMP yang belajar melukis di rumahnya.
Saat ini diakui ia lebih betah menghabiskan waktu di rumah di gudang seserahan miliknya.
Meskipun kerap mendapat tawaran menjadi guru seni di berbagai sekolah.
“Dulu menjadi seniman itu, dianggap tidak jelas, orang tidak berpenghasilan. Ternyata anggapan itu salah, justru menjadi sumber penghasilan,” pungkasnya. (Supardi/r6)
Editor : Kimda Farida