Menjadi dokter pada periode 1900-an, Dr Soedjono menemui berbagai hambatan dan rintangan untuk menjalankan misi mulianya menolong sesama di tanah Lombok yang masih sangat primitif.
Menjadi dokter pertama di Lombok Timur, dan salah satu yang paling awal di Lombok, Dr Soedjono jelas sangat dibutuhkan pasiennya. Sebagai seorang bangsawan trah Surakarta Solo, ia juga jelas sangat terpandang, bahkan oleh bangsa penjajah kala itu. Pendidikan tinggi yang dienyam juga membuat banyak orang segan padanya.
Namun itu semua tak lantas membuat dokter kelahiran 1879 itu besar kepala. Dr Soedjono tetaplah seorang manusia biasa yang oleh banyak kalangan disebut sangat membumi. Rendah hati adalah penggambaran sederhana yang pas diberikan padanya. Hingga kini suara itu masih terdengar dari sekelompok keluarga yang pernah dibantunya. ”Namanya harum di sana-sini,” kata L Kamil, seorang warga Keruak yang banyak mendengar kisah soal sang dokter.
Hal itu tampak jelas dari caranya menangani pasien. Tak sepeserpun uang akan dipungut jika melayani pasien pribumi yang tak berada. Alih-alih mendapat bayaran, Dr Soedjono yang beristri tiga itu justru kerap mengeluarkan uang dari kocek pribadi untuk membantu pasien yang kerap membuatnya miris. Lombok kala itu memang jauh berbeda dari kondisi saat ini. Kemiskinan, kelaparan, bahkan kemelaratan seolah menjadi hal biasa, dan itulah yang selalu membuat si dokter terenyuh saat membantu pasiennya.
Praktis, Dr Soedjono hanya menarik bayaran dari pasien Belanda atau keturunan Tionghoa yang umumnya memiliki ekonomi yang lebih baik. Bahkan untk pasien pribumi, ia seolah rela melakukan segalanya. Tak hanya menanti pasien di rumahnya di Selong, Dr Soedjono bahkan sudah menerapkan sistem jemput bola langsung ke rumah-rumah pasien.
Ya, dia seolah menjadi pelopor pelayanan prima sepenuh hati yang kini mulai digaungkan banyak pemerintahan daerah di berbagai penjuru NTB. Bayangkan, dengan kesusahan kala itu, ia bisa berkeliling Lombok ratusan kilometer demi pasien.
Raden Rahardian Soedjono sang cucu mengatakan, kakeknya Dr Soedjono bahkan kerap bepergian hingga Bayan yang kini masuk wilayah Kabupaten Lombok Utara. Menunggangi seekor kuda, dengan peralatan medisnya, ia bisa pergi berhari-hari. Blusukan ke berbagai pelosok desa memberi bantuan medis. ”Makanya sampai saat ini, orang-orang tua di berbagai pelosok Lombok masih menyebut namanya,” kenang Rahardian.
Dengan apa yang dilakukannya, sang dokter seolah hendak berkata bahwa tak ada yang bisa menghambat niat baik seseorang untuk membantu. Lombok yang kala itu sebagian besar masih hutan belantara dengan jalan setapak seadanya di beberapa wilayah tak dihiraukan demi membantu sesama. Itulah yang membuat nama Dr Soedjono hingga kini masih harum hingga daerah-daerah pelosok semisal Tete Batu, Jurit, Keruak, Sukarara, dan banyak lagi. (WAHYU PRIHADI/r6/bersambung)
Editor : Prihadi Zoldic