Sahram 65, Tahun warga Dusun Sukamandi, Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek, Lombok Timur merupakan satu dari sekian banyak buruh pemecah batu apung di Kelurahan Ijo Balit, Kecamatan Labuhan Haji.
Dua sosok perempuan tengah duduk di atas tumpukan batu apung yang sudah dipecahkan kecil-kecil.
Tangannya yang sudah keriput terlihat lincah memainkan parang untuk memecah batu-batu apung itu.
Meski sudah cukup tua namun tenaganya tidak kalah dengan pekerja lainnya.
Panas terik siang hari tak membuatnya beranjak meninggalkan tempat kerjanya.
Bayangan pohon kelapa ia manfaatkan sebagai tempat berlindung dari sengatan matahari.
Dialah Nenek Sahram 65, Tahun seorang buruh pemecah batu apung asal Dusun Sukamandi, Desa Lenek Baru, Kecamatan Lenek.
Menjadi buruh pemecah batu sudah dilakoni sejak beberapa tahun lalu.
Pekerjaan ini merupakan satu-satunya yang bisa diandalkan di usia senjanya.
“Hanya ini yang bisa saya kerjakan sekarang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Sahram saat ditemui di sela-sela kesibukannya, Minggu (15/6).
Sebelum menjadi buruh pemecah batu, ia merupakan seorang buruh tani, namun karena usia sudah tua, membuatnya meninggalkan pekerjaan lamanya itu.
Setiap hari ia berangkat kerja saat hari masih gelap bersama rekan-rekannya, mengingat lokasi kerja dengan rumahnya cukup jauh.
“Berangkat pagi pulang sore, kadang juga malam. Pagi-pagi setelah salat Subuh, kemudian sarapan dan siapkan bekal kita langsung berangkat, makanya sebelum subuh kita sudah bangun,” katanya.
Upah yang didapatkan tidak menentu, tergantung tingkat ketekunan dan kecepatan. Per karung ia hanya di upah Rp 2.000.
Sementara dalam sehari dirinya hanya bisa memecah batu 15-20 karung.
Sehingga dalam sepekan ia hanya mendapat gaji sekitar Rp 200 ribu bahkan kurang.
“Alhamdulillah berapa pun itu kita harus syukuri. Bagaimana pun masih bisa membantu memenuhi makan sehari-hari sendiri. Karena anak saya sudah nikah semuanya ke jauh-jauh,” katanya.
Diakui, upah menjadi buruh tani lebih besar di bandingkan pemecah batu, hanya saja pekerjanya itu saat ini sudah tidak bisa dilakukan karena faktor usia.
“Sering sih kena dengan batu, kadang kena kaki dan tangan. Tapi lama-lama jarang mungkin karena sudah biasa, tapi harus tetap waspada,” Katanya.
Setiap musim hujan ia akan libur bekerja berhari-hari.
Sehingga saat musim hujan menjadi paling berat baginya karena tidak ada pemasukan.
Meski ia kerap mendapat bantuan sembako bari pemerintah, namun ia tidak mau terlalu bergantung.
Inilah yang membuat selalu semangat bekerja.
Meski usia sudah tua ia lebih memilih produktif, karena menurutnya berharap hanya akan menyakiti hati.
Hal itu dikarenakan beberapa kali ia dijanjikan untuk dapat bantuan jompo namun hingga saat ini tidak kunjung selesai.
“Dulu sempat dijanjikan akan mendapatkan bantuan uang bantuan Jompo, tapi sampai sekarang tidak kunjung cair, saya tidak tahu orangnya siapa, tapi yang jelas saya sudah didata dan dijanjikan untuk mendapatkan bantuan, tapi hilang kabarnya,” tutupnya dengan sedikit kecewa. (SUPARDI/r6)
Editor : Kimda Farida