LombokPost-Rudi Hartawan sudah berjualan gorengan sejak puluhan tahun lalu.
Namun dua tahun belakangan ini usahanya bangkrut, dan saat ini ia ingin bangkit kembali, begitu susah rasanya.
Lokasinya tidak jauh dari gapura pintu masuk Desa Peneda Gandor, Kecamatan Labuhan Haji.
Baca Juga: Bantuan Peralatan Dilarang Dijual, Warga Miskin Ekstrem Diutamakan Ikut Pelatihan
Tepatnya di Dusun Repok, di sana ada sebuah rumah dengan ukuran cukup besar terlihat mangkrak, temboknya sudah dipenuhi lumut dan semak belukar, pun dengan kayu-kayunya sudah termakan rayap.
Setengah rumah, terlihat masih dimanfaatkan sebagai tempat tinggal.
Meski rumah tersebut tanpa jendela dan hanya memiliki satu kamar tidur dan ruang tamu.
Tepat di depan rumah itu, sebuah gazebo tua berdiri dengan sedikit miring di penuhi pakaian anak-anak dan dipasangkan kelambu dan tirai.
Di rumah ini Rudi Hartawan tinggal bersama istri dan lima orang anaknya.
Kondisi rumah yang hanya memiliki satu kamar itu tidak bisa menampung semua keluarganya.
Namun hanya rumah ini satu-satunya yang bisa diandalkan Rudi untuk berlindung dari panas dan hujan.
“Anak-anak ada yang tidur di kamar, ruang tamu, sementara saya dan istri tidur di Gazebo, karena memang tidak cukup untuk menampung kami,” terang Rudi saat ditemui di rumahnya, Selasa (17/6).
Rumah itu milik keluarga istrinya.
Ia hanya menumpang, sebelumnya ia tinggal di rumah kontrakan, namun setelah tidak punya pekerjaan ia tidak mampu lagi membayar sewa.
Sehingga membuatnya harus meninggalkan kontrakan mereka.
Diceritakan, sebelumnya ia merupakan seorang penjual gorengan.
Usaha itu mulai dirintis dengan menitipkan ke warung-warung dan kantin sekolah terdekat.
Setelah delapan tahun berjualan dengan menitip barang, ia memutuskan untuk jualan sendiri di pinggir jalan menggunakan gerobak.
“Alhamdulillah waktu itu usaha saya cukup lancar, bahkan banyak orang luar yang datang beli, kata orang gorengannya sangat enak,” kata dia.
Saat itu omzet yang didapatkan per hari sekitar Rp 1-2 juta.
Namun masa kejayaannya itu tidak berlangsung lama.
Dagangnya yang sebelumnya selalu ramai perlahan sepi pembeli.
Setelah beberapa bulan, usaha gorengnya sepi, ia memutuskan untuk menutup usahanya dan tidak punya pekerjaan lagi.
Uang tabungan mereka habis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak-anaknya.
“Kami sudah dua tahun nebeng di rumah ini. Karena saya sudah tidak punya pekerjaan lagi, saya sudah ke sana kemari, cari pekerjaan dan bantuan tapi belum ada,” terang pria kelahiran Bogor, Jawa Barat itu.
Sejak kehilangan pekerjaan itu, ia hanya bergantung pada istrinya yang hanya seorang buruh tani dengan penghasilan Rp 30- 35 ribu per hari.
Penghasilan itu diakui jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka bersama anak-anaknya.
Sementara lima orang anaknya saat ini semuanya sekolah, satu orang saat ini duduk di bangku kuliah semester tujuh di Jakarta.
Dua orang anaknya duduk di bangku SMA, satu orang di bangku SMP dan terakhir masih SD.
“Anak-anak saat ini sedang butuh biaya semuanya. Apalagi yang SD sebentar lagi mau lulus. Sementara di sini kelulusan harus wisuda dan harus pakai kebaya itu semua butuh uang,” ujarnya.
Disebutkan beberapa kali ia pergi mencari bantuan agar ada modal untuk kembali berusaha, mulai dari instansi pemerintahan hingga ke kerabat-kerabatnya.
Namun semua nihil.
“Saya bingung mau bagaimana lagi, saya ingin jualan lagi, agar anak-anak saya tetap sekolah. Tapi bagaimana lagi saya tidak punya modal, jangankan modal makan saja susah,” bebernya.
Disebut, meminjam modal di bank tidak bisa dilakukan, karena tidak memiliki apa-apa yang bisa dijadikan agunan pinjaman.
Dirinya berharap ada orang baik yang bisa membantunya untuk bisa bangkit lagi.
Agar anak-anaknya bisa tetap sekolah dan bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. (par/r6)
Editor : Kimda Farida