LombokPost - Memasuki musim kemarau, sejumlah desa di Kecamatan Jerowaru mulai mengalami krisis air bersih.
Warga dari beberapa desa bahkan telah membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kekeringan sudah mulai terasa, meskipun masih ada sisa-sisa air hujan yang ditampung beberapa minggu lalu.
"Tapi sebagian besar masyarakat sudah beli air tangki," terang Kepala Dusun Ekas, Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru Rumawe kepada Lombok Post, Senin (30/6).
Keberadaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Pantai Selatan yang diresmikan Maret lalu diakui belum bisa dimanfaatkan warga, khususnya di Desa Ekas Buana dan sekitarnya.
Jaringan perpipaan dari reservoar Pemongkong hingga kini belum menjangkau pemukiman warga Ekas Buana. Namun Pemkab Lombok Timur berjanji SPAM Pantai Selatan akan beroperasi penuh akhir tahun ini.
"Katanya ada jaringan yang rusak, makanya belum bisa beroperasi," ujarnya.
Untuk keperluan memasak, mencuci, dan mandi, masyarakat mengandalkan air tangki yang diambil dari mata air Lingkok Tutuk, Desa Tutuk. Sedangkan untuk minum, warga membeli air isi ulang atau kemasan.
Satu tangki air berkapasitas 5.000 liter digunakan maksimal satu hingga dua minggu, tergantung kebutuhan. Harganya bervariasi, antara Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu per tangki, tergantung jarak.
Jaringan perpipaan SPAM saat ini baru mencapai perbatasan Desa Pemongkong dan Desa Ekas. Warga Ekas Buana sama sekali belum bisa menikmati air SPAM seperti desa lainnya di selatan Jerowaru.
Ia berharap jaringan SPAM bisa segera terhubung ke Ekas, mengingat musim kemarau terus berjalan dan kebutuhan air semakin meningkat, terutama untuk pelaku wisata.
"Kasihan teman-teman pelaku wisata harus beli air setiap hari. Sementara kebutuhan air mereka cukup banyak. Begitu juga dengan masyarakat. Mereka kadang tidak cukup satu tangki seminggu," katanya.
Sementara itu, H Ahmad Yani, pengelola pengisian air Lingkok Tutuk menyebut permintaan air bersih mulai meningkat sejak awal Juni. Satu mobil tangki rata-rata mengantar air hingga 9–10 kali sehari.
"Jumlah armada di Jerowaru sebanyak 34 armada," ujarnya.
Permintaan tertinggi datang dari desa-desa di bagian selatan Jerowaru, seperti Sekaroh, Kwang Rundun, Ekas Buana, dan Seriwe. Air digunakan untuk keperluan memasak, mandi, mencuci, hingga minum.
"Bisa juga diminum, karena ada juga yang tidak bisa minum air isi ulang. Kalau untuk pertanian jarang, stok air embung masih ada," tutupnya. (par/r7)
Editor : Pujo Nugroho