Di balik daun-daun hijau dan buah yang ranum, seorang pemuda bernama Sopian Hadi.
Tanpa latar belakang pertanian menemukan jalan suksesnya.
Modalnya cuma rasa penasaran dan video tutorial.
Baca Juga: Budi Daya Melon Tawarkan Omzet Puluhan Juta
Tulisan di papan putih kecil bertuliskan “Parkir sepeda motor di atas” menyambut setiap pengunjung yang datang ke sebuah rumah makan di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela.
Tak jauh dari papan itu, hamparan lahan parkir tampak cukup luas. Sebagian lahan masih difungsikan sebagai lahan pertanian.
Di ujung lahan, tampak seorang pemuda sibuk mengawinkan bunga melon yang mulai mekar. Usianya baru 21 tahun, tapi tangan dan pikirannya akrab dengan tanah dan tanaman.
Dia adalah Sopian Hadi, pemuda asal Desa Pringgasela seorang petani Gen Z. Lewat budi daya melon, ia sukses mengubah halaman rumah makan milik kakaknya menjadi agro wisata mini yang menarik perhatian pengunjung.
“Saya hanya menonton tutorial di YouTube dan TikTok saja. Karena penasaran, akhirnya saya coba langsung di lahan,” ujar Sopian saat ditemui di lahannya, Selasa (1/7).
Tak mudah memang. Di percobaan pertama, seluruh tanamannya diserang hama. Banyak yang mati. Kerugian mencapai Rp 5 juta. Tapi Sopian tak menyerah. Ia kembali menonton video-video pertanian, belajar cara meracik pestisida dan menangani penyakit tanaman.
“Saya aplikasikan di tanam kedua,” katanya.
Pada musim tanam kedua, Sopian sudah lebih siap. Saat tanaman mulai berumur sebulan, hama kembali menyerang. Tapi kali ini ia sudah tahu cara mengatasinya. Racikan obat yang ia buat sendiri berhasil membuat tanaman kembali hijau dan segar.
Melihat hasilnya, semangatnya kembali tumbuh. Beberapa bulan kemudian, buah-buah melon mulai matang. Tapi ia menghadapi tantangan baru.
“Setelah berhasil saya bingung mau jual dengan harga berapa dan di mana. Saya akhirnya cek di pasar harga melon. Kemudian pas panen ada pengunjung kafe yang beli dan saya tawarkan harga itu,” katanya.
Sejak saat itu, para pengunjung rumah makan tak hanya datang untuk makan. Mereka juga tertarik memetik melon langsung dari kebun kecil milik Sopian. Foto-foto, belanja, dan pengalaman langsung membuat kebun itu jadi daya tarik tersendiri.
Satu kilogram melon dibanderol Rp 15 ribu. Dengan luas lahan yang terbatas, Sopian tetap bisa meraup untung bersih antara Rp 5 hingga Rp 7 juta sekali panen. Ia sudah lima kali menanam melon, dan hasilnya selalu memuaskan.
“Buahnya besar-besar. Kalau pemasaran di sawah langsung, pembeli petik sendiri,” ujarnya.
Kini, Sopian mulai melebarkan usaha. Ia berencana mencari lahan baru untuk memperluas budi daya. Targetnya, bisa memasok ke toko buah di Lombok Timur, bahkan ke seluruh Pulau Lombok.
“Dulu sempat tanam di tempat lain, tapi lahannya diambil. Makanya sekarang saya mau cari lahan untuk kembangkan budi daya melon ini,” tutupnya. (SUPARDI, Lombok Timur/r7)
Editor : Siti Aeny Maryam