LombokPost - Musim panen tembakau rajang di Jerowaru mulai bergulir, namun harga jual yang anjlok membuat petani gigit jari. Dibandingkan tahun lalu, harga tahun ini merosot lebih dari separo.
“Harganya masih Rp 27 ribu per kilogram. Kalau dulu bisa Rp 55 ribu per kilogram. Kalau tembakau rajang tidak ada ketentuan harga dari perusahaan seperti Virginia, karena kita tidak bermitra,” terang Zulkarnaen, salah satu petani asal Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Rabu (2/7).
Ia mengatakan musim tanam tahun ini mengalami kemunduran dibanding tahun sebelumnya. Biasanya petani mulai menanam pada awal Mei, namun tahun ini baru bisa menanam pada awal Juni.
Hal itu disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu. Jika biasanya akhir Mei sudah memasuki musim kemarau, tahun ini hujan masih turun hingga Juni. Kendati demikian, beberapa petani di wilayah selatan tetap menanam pada Mei.
“Yang panen sekarang ini kita tanam Mei, pada saat jagung sudah mulai mau panen. Makanya kita panen lebih awal dibanding yang lain,” katanya.
Cuaca yang tak menentu juga memengaruhi pertumbuhan tembakau. Tanaman tumbuh tidak merata dan berdampak pada menurunnya produksi, meski kualitas daun dinilai cukup baik.
Salah satu kendala yang dihadapi petani di wilayah selatan adalah tidak adanya saluran irigasi. Sebagian besar petani bergantung pada air hujan yang ditampung di bendungan kecil. Bahkan tak sedikit petani yang harus membeli air tangki untuk menyiram tanaman ketika bendungan mulai mengering.
“Itu salah satu kesulitan kami di sini (Pemongkong), karena tidak ada saluran irigasi. Petani menampung air hujan di bendungan. Kalau habis, kita beli air tangki,” ungkapnya.
Petani lainnya, Muksin menambahkan, petani yang mulai panen saat ini adalah mereka yang menanam di awal musim hujan atau bersamaan dengan musim panen jagung. Namun sebagian petani memilih menunda penanaman hingga hujan benar-benar berhenti agar bisa memanfaatkan air tampungan.
“Yang masih kecil-kecil tembakaunya ini mereka tanam setelah musim hujan, dengan memanfaatkan air di bendungan. Tapi beberapa petani saat ini mulai beli air tangki untuk pemupukan dan penyemprotan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim Mirza Sofian sebelumnya menyebut. musim tanam tembakau tahun ini sedikit mundur dari biasanya. Umumnya musim tanam dimulai awal Mei, namun tahun ini baru berlangsung mulai Juni.
“Mundurnya musim tanam ini dikarenakan di bulan Mei bahkan akhir Mei masih turun hujan. Sehingga banyak petani yang tahan diri untuk tidak menanam dulu,” terangnya.
Target tanam tembakau tahun ini tidak jauh berbeda dengan 2024 lalu. Target tanam tembakau Virginia seluas 13.857 hektare dan tembakau rajang seluas 10.086 hektare.
Ia menyebut minat petani untuk menanam tembakau saat ini kembali meningkat, karena harga tembakau, khususnya Virginia, dalam tiga tahun terakhir tergolong tinggi. Tahun lalu harga tertinggi mencapai Rp 74 ribu per kilogram. (par)
Editor : Pujo Nugroho