Jika ingin memancing ke tengah laut, peran ojek perahu sangatlah penting.
Mereka bahkan sudah hafal spot-spot memancing yang bagus dan banyak ikannya.
Hanya Libur saat Cuaca Ekstrem.
PULUHAN perahu terparkir rapi di depan perkampungan Toroh, Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak, Lombok Timur.
Angin yang berhembus siang itu cukup kencang, membuat perahu-perahu milik nelayan itu terombang ambing.
Di seberang, terlihat nelayan tengah berjuang menaikkan perahu berukuran besar secara gotong royong. Mereka memindahkannya ke tempat yang lebih jauh dari bibir pantai.
Saat itu cuaca sedang tidak bersahabat, membuat para nelayan di Desa Tanjung Luar memilih untuk berlibur menangkap ikan. Tak terkecuali para ojek perahu yang biasanya mengantar pemancing untuk memancing ke laut juga ikut libur.
Salah satunya ialah Rusdan, 22 tahun, asal Dusun Toroh Tengah, Desa Tanjung Luar, Kecamatan Keruak. Ia terpaksa harus menolak orderan mengantar pemancing, karena cuaca ekstrem sejak satu Minggu terakhir ini.
"Libur sekarang, cuaca lagi buruk. Kalau sudah siang angin sudah mulai kencang, makanya nelayan sekarang mulai menaikkan perahu-perahu mereka," terang Rusdan kepada Lombok Post, Jumat (11/7).
Rusdan menceritakan, awal mulai dia memulai sebagai ojek perahu sejak satu tahun lalu. Sebelumnya ia ikut menjaring ikan (ngerakat) ikan dengan nelayan yang lainnya.
Meski umurnya masih cukup muda, namun skilnya dan tenaganya menarik jaring besar tidak kalah dengan nelayan-nelayan lain yang sudah berpengalaman.
Terlebih ilmu menangkap ikan diwariskan langsung oleh ayahnya.
"Saya ikut kapal-kapal besar bersama nelayan. Hasilnya nanti kita bagi bersama pemilik kapal dan teman-teman yang lain. Banyak juga yang muda-muda kayak saya," katanya.
Diakui pendapatan ngerakat lebih besar dibandingkan menjadi ojek perahu memancing.
Dalam semalam ia bisa mendapatkan Rp 1 juta lebih. Hanya saja pergi ngerakat dinilai lebih lelah dibandingkan mengantarkan orang memancing.
Selain bertarung dengan cuaca, menjaring ikan juga harus bisa begadang setiap malam.
Sehingga hal ini membuatnya memutuskan lebih memilih sebagai ojek memancing, meski hasil yang didapatkan lebih sedikit.
"Kalau ngerakat kita berangkat magrib, pulang jam 06.00 pagi. Jadi tidak ada kesempatan untuk tidur. Makanya saya tidak diizinkan lagi sama orang tua. Disuruh untuk fokus sebagai ojek perahu saja," bebernya.
Akhir Pekan Lebih Ramai
Dalam seminggu ia bisa mengantar 2-3 kali, bahkan lebih. Terutama pada akhir pekan, pemancing biasanya cukup ramai dibandingkan dengan hari-hari biasanya.
Kata dia, sekali pemberangkatan ia bisa membawa 4-6 orang.
Masing-masing orang dikenai biaya Rp 30 ribu sampai Rp 50 ribu. Ia mulai berangkat sejak pukul 07.30 Wita hingga pukul 17.00 Wita.
"Kalau bawa 1-2 kita rugi. Karena sekali memancing kita butuh 4-5 liter bensin. Makanya minimal 4 orang lah. Dua hari sebelum memancing, biasanya mereka boking dulu via WA (WhatsApp). Paling rame itu pas libur panjang," katanya.
Para mancing mania saat ini diakui cukup banyak. Sehingga ia diminta fokus untuk mengantar orang memancing saja, dibandingkan pergi ngerakat.
Spot-Spot Memancing
Spot memancing yang biasa dituju, mulai dari jalur Pantai Pink, Pantai labuhan Haji, Pulau Bembek dan lainnya.
Biasanya spot mancing ditentukan oleh pemancing sendiri.
Namun tidak jarang ia merekomendasikan tempat-tempat yang bagus.
"Kadang mereka yang tentukan tempat, kita kan hanya mengantar saja, ke mana mereka mau. Dalam sehari itu ada puluhan sampai belasan tempat kita datangi. Tergantung banyak tidaknya ikan," katanya.
Dikatakan, menentukan spot mancing tidak mudah.
Namun ia punya cara sendiri untuk melihat spot yang bagus. Hal itu ia dapatkan dari sang ayah langsung.
Di mana rumah ikan yang di huni ikan-ikan besar.
Rata-rata para pemancing yang telah menggunakan jasanya, jarang yang kecewa dengan hasil tangkapannya.
Meskipun yang dicari pemancing bukan semata-mata ikan, tapi kesenangan dan sensasi saat menarik ikan.
"Sebenarnya kalau sudah narik, pemancing itu merasa aman atau tidak rugi. Meskipun dapat sedikit. Karena yang dicari bukan ikan semata-mata, tapi sensasi straight-nya. Pengalaman pahit itu, pernah diterjang cuaca buruk ketika di tengah laut, tapi alhamdulillah berhasil selamat," tutupnya. (Supardi, Lombok Timur/r3)
Editor : Kimda Farida