Di usia belia, anakanak Desa Tetebatu tak hanya piawai berbahasa Inggris, tapi juga lihai menjadi pemandu wisata bagi turis asing. Dari sawah hingga air terjun, mereka mengenalkan keindahan desa sambil mengantongi rupiah untuk keperluan sekolah.
HARI mulai sore. Matahari di ufuk barat perlahan tenggelam. Namun sejumlah anak berusia 10 hingga 14 tahun masih asyik bermain di tengah hamparan sawah yang menghijau. Beberapa dari mereka tampak berlari kecil, mengejar rombongan yang telah berjalan lebih dulu.
Di belakang mereka, seorang pria dewasa dan perempuan berkulit putih serta berambut pirang mengikuti dari kejauhan. Keduanya menyusuri pematang sawah yang ditanami padi. Sesekali anak-anak itu berhenti untuk menunjukkan jalan pintas dan menjelaskan sesuatu kepada dua tamu asing tersebut.
Salah satu dari anak itu adalah Budiman, 14 tahun, seorang guide cilik dari Desa Tetebatu, Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Usianya masih belia, namun pengalamannya sebagai pemandu wisata tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia sudah dua tahun menggeluti profesi ini.
“Sejak baru lulus SD sudah jadi guide. Tapi jadi guide-nya di seputaran sini saja (Tetebatu, Jeruk Manis),” terang anak laki-laki yang akrab disapa Budi itu, Kemarin.
Budi mengenang awal mula dir inya menjadi pemandu. Saat hendak masuk SMP, ada tamu asing yang menginap di penginapan milik keluarganya. Tidak ada pemandu yang bisa menemani, sehingga ia diminta mendampingi tamu asal Jerman itu keliling desa.
Di awal, Budi kesulitan berkomunikasi. Bahasa Inggrisnya belum lancar, sehingga ia mengandalkan Google Translate untuk menerjemahkan percakapan selama menemani tamu-tamu menjelajahi alam Tetebatu.
“Kadang ada juga yang pakai bahasa daerah mereka, tidak menggunakan bahasa Inggris, itu yang buat saya bingung,” ujarnya.
Lambat laun, setelah sering mendengar percakapan tamu, kemampuan berbahasanya meningkat. Ia pun makin percaya diri membawa wisatawan asing mengelilingi keindahan alam Tetebatu. Biasanya, Budi bekerja secara berkelompok bersama teman-temannya.
Dalam satu perjalanan, mereka mendampingi dua hingga tiga tamu. Sekali jalan, mereka bisa mendapat upah antara Rp 200 ribu hingga Rp 400 ribu. Tak jarang, tamu juga memberi uang tambahan.
“Uang itu kemudian kami bagi. Kadang tamu yang kami temani sekali jalan 2-4 orang. Kalau lagi rame tamu, kami bisa jalan 4-5 kali sehari, apa lagi kalau hari Minggu. Kalau hari-hari biasa kami mulai jalan sepulang sekolah,” terangnya.
Dalam setengah hari, masing-masing anak bisa mengantongi Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu, bahkan lebih. Uang itu mereka gunakan untuk jajan, membeli perlengkapan sekolah, dan sebagian ditabung.
Bulan Juli hingga Agustus menjadi musim ramai kunjungan wisatawan asing. Hampir setiap sore, Budi dan teman-temannya selalu mendapat tamu. Biasanya mereka diajak menyusuri sawah, kebun, dan air terjun, lalu kembali ke titik awal.
“Biasanya mereka minta diajak jalan-jalan ke sawah, kebun dan air terjun. Setelah itu balik lagi. Kita hanya jalan-jalan saja. Kadang ada teman-teman juga jalan sendiri walaupun umurnya masih sangat kecil,” katanya.
Hampir semua anak-anak di Desa Tetebatu kini fasih berbahasa Inggris. Hari Minggu bukan lagi waktu untuk bermain game online atau menonton YouTube, melainkan membawa tamu berkeliling desa. Tidak sedikit dari mereka menjalin pertemanan akrab dengan tamu-tamu asing. Mereka nongkrong, bermain permainan tradisional, dan melakukan aktivitas sehari-hari bersama.
“Tapi kalau berteman dengan bule atau anaknya itu ada lebihnya, kita dapat upah,” tutupnya dengan senyum kecil.
Editor : Siti Aeny Maryam