Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Marta Green, Varietas Alpukat “Raksasa” di Kaki Gunung Rinjani Potensi Ekonominya Tinggi, Bikin Masyarakat Timbanuh Enggan Jadi Porter Pendakian

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 26 Agustus 2025 | 07:28 WIB

 

Salah satu pohon alpukat yang dipenuhi oleh buahnya (ist/Lombok post)
Salah satu pohon alpukat yang dipenuhi oleh buahnya (ist/Lombok post)

Hawa sejuk pegunungan, hijaunya kebun, dan deretan pohon alpukat yang tumbuh subur di setiap pekarangan menjadi pemandangan khas Desa Timbanuh, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur (Lotim). 

Dari desa di kaki Rinjani inilah lahir varietas alpukat unggulan bernama Marta Green, yang kini menjadi harapan baru peningkatan ekonomi warga.

Sepanjang jalan, berbagai buah tumbuh subur di kebun dan pekarangan warga. Hampir semua pekarangan ditanami buah, terutama alpukat dan durian yang tumbuh berdampingan.

Kepala Desa Timbanuh Muhammad Ilham menyampaikan, menjadikan Timbanuh sebagai sentra alpukat merupakan cita-cita bersama masyarakat. Alpukat menjadi sumber pendapatan utama karena harga jualnya tinggi.

“Kalau bulan Januari-Februari itu harga alpukat masih Rp 10.000 per kilogram. Kemudian Maret-April harganya Rp 15 ribu-Rp 25 ribu per kilogram,” terangnya, Minggu (24/8).

Ia mengatakan, masyarakat Timbanuh mengembangkan varietas lokal bernama Marta Green. Varietas ini dinilai memiliki potensi besar. Berdasarkan hasil uji sampel tahun lalu, rata-rata satu biji alpukat Marta Green bisa mencapai 884 gram.

Hampir sebagian besar wilayah Timbanuh ditanami alpukat. Dari luas 580 hektare desa, sebagian besar ditumbuhi pohon apukat.

“Sebagian besar lahan di Timbanuh dan pekarangan warga wajib ada pohon alpukat,” katanya.

Alpukat Marta Green biasanya panen dua kali setahun, berbeda dengan varietas lain yang hanya sekali. Produksi alpukat di Timbanuh diakui cukup tinggi setiap tahun.

Berdasarkan catatan empat pengepul pada 2021, sekali musim panen bisa mencapai 2 ribu ton untuk semua varietas.

“Karena yang mengembangkan alpukat jenis Marta Green ini baru beberapa orang saja. Kami ingin masyarakat bisa mengembangkan varietas ini, karena saya juga mengembangkannya dan bisa panen dua kali setahun dengan hasil menjanjikan,” katanya.

Saat ini harga alpukat berkisar Rp 19 ribu per kilogram. Hasil panen biasanya dipasarkan ke Jawa dan Bali.

Untuk meningkatkan produksi, desa memberi pelatihan dan bimbingan kepada masyarakat, terutama tentang cara bercocok tanam yang baik untuk mengembangkan Marta Green.

Ia menambahkan, jika dirawat baik, satu pohon indukan Marta Green bisa menghasilkan hingga Rp 9 juta per musim. Karena itu pihaknya mendorong masyarakat memperluas pengembangan varietas ini.

“Alhamdulillah sekarang masyarakat sudah mulai melakukan penyambungan dengan varietas Marta Green. Jika rata-rata masyarakat menanam puluhan pohon maka ekonomi akan meningkat. Inilah cita-cita besar kami,” jelasnya.

Selain alpukat, Timbanuh juga memiliki potensi perkebunan durian, kopi, labu siam, vanila, dan porang. Potensi alam ini dinilai besar jika dikelola baik.

Meski desa Timbanuh menjadi salah satu jalur pendakian, masyarakat lebih memilih menjadi pekebun buah atau petani sayur dibanding terjun di dunia wisata, seperti porter di jalur selatan atau jalur Timbanuh. Hampir tidak ada warga yang menjadi pemandu wisata.

“ Dulu memang ada pemuda kami yang jadi porter, tetapi sekarang mereka sudah tinggalkan. Mereka lebih senang jadi pekebun karena bisa lihat sendiri hasilnya,” tutupnya.

Salah satu pemilik kebun alpukat di Timbanuh, Eril, mengatakan kelebihan Marta Green adalah buahnya besar dan bisa panen dua kali setahun. Alpukat ini kerap berbuah saat alpukat di pasaran langka, sehingga selalu mendapat harga tinggi.

“Dan alpukat jenis Marta Green ini juga tahan dari berbagai penyakit. Makanya sekarang rata-rata masyarakat mulai beralih mengembangkan Marta Green daripada jenis lain,” tutupnya Eril. 

Editor : Akbar Sirinawa
#alpukat #buah alpukat #buah #Ekonomi #Lotim