LombokPost - Petani tembakau di Lombok Timur (Lotim) terhimpit kerugian. Harga tembakau virginia dan rajang tahun ini merosot tajam, sementara cuaca ekstrem merusak kualitas tanaman.
Muhammad Nur, petani tembakau rajang asal Desa Lenting, Kecamatan Sakra Timur menyampaikan harga tembakau rajang saat ini menurun dibanding 2023-2024. Tahun ini daun 1-3 dijual Rp 2,3 juta-Rp 2,5 juta per kuintal, sementara tahun lalu mencapai Rp 3 juta-Rp 3,5 juta per kuintal.
"Kalau tahun lalu bahkan bisa tembus di angka Rp 4 juta per kuintal untuk daun ke 1-3, sekarang paling tinggi Rp 2,5 juta," jelasnya pria yang akrab disapa Amak Pandi itu, Rabu (26/8).
Daun ke 4-7 dengan kualitas terbaik dijual Rp 4,3 juta-Rp 4,5 juta per kuintal. Padahal tahun 2024 lalu harganya Rp 5 juta-Rp 7 juta per kuintal.
Ia mengaku tidak mengetahui penyebab pasti turunnya harga tembakau rajang tahun ini. Rendahnya harga membuatnya pesimis bisa meraup keuntungan seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Harga tembakau tertinggi itu pada tahun 2023 lalu. Alhamdulillah tahun itu lumayan keuntungan kita, kalau sekarang kayaknya tipis bahkan terancam merugi," ungkapnya.
Selain harga, kondisi cuaca tahun ini juga tidak menentu hingga mengakibatkan kualitas tembakau kurang bagus. Bahkan akibat hujan kemarin, tembakau petani yang sudah dirajang rusak.
Tembakau rajang berbeda dengan virginia. Tembakau rajang sangat bergantung pada cuaca panas penuh. Untuk menghasilkan kualitas bagus, satu hari penjemuran harus kering, jika tidak akan memengaruhi kualitas daun dan warna tembakau.
"Jika kualitas rusak maka harga juga akan ikut rusak. Apalagi tembakau rajang ini tidak bisa telat dijemur dan telat panen," katanya.
Selain cuaca, banyak tanaman tembakau petani tiba-tiba layu dan mati di sawah akibat terserang penyakit busuk akar.
Terpisah, petani tembakau virginia asal Desa Kabar, Kecamatan Sakra Ali Sadikin menambahkan, kondisi tembakau virginia dengan rajang tidak jauh berbeda, baik dari kualitas tanaman maupun harga. Harga tembakau virginia tahun ini juga menurun dibanding sebelumnya.
"Murah juga, bahkan turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya.
Menurutnya, daun 1-3 saat ini dijual Rp 2,5 juta per kuintal, sedangkan tahun lalu bisa mencapai Rp 3,5 juta-Rp 4 juta. Bahkan tembakau dengan kualitas kurang bagus saat ini tidak laku dibeli perusahaan.
Sedangkan daun ke 4-7 tahun ini dijual dengan harga tertinggi Rp 4,5 juta per kuintal. Tahun lalu harga tertinggi untuk kualitas terbaik mencapai Rp 7,4 juta per kuintal. Melihat kondisi ini ia pesimis bisa mendapat keuntungan seperti sebelumnya.
"Syukur-syukur bisa balik modal. Harga jauh menurun sekarang, belum lagi harga sewa lahan sekarang juga meningkat. Sewa lahan sekarang Rp 30 juta per hektare. Kalau dulu kita bisa sewa Rp 18 juta-Rp 19 juta per hektare," katanya.
Selain itu, kemarau basah tahun ini mengakibatkan tembakau petani mati.
Biasanya petani bisa panen 8-9 kali, kini maksimal hanya 7 kali karena banyak tembakau dipanen sebelum waktunya.
"Kondisi tembakau banyak yang mati akibat busuk akar. Memang lokasinya tembakau saya yang mati tidak menyeluruh. Tapi kalau kita kumpulkan dari luas lahan tempat saya menanam ada sekitar 10 are yang terdampak. 10 are ini lumayan hasilnya, bisa kita dapat Rp 5 juta-Rp 6 juta," tutupnya. (par/r7)
Editor : Pujo Nugroho