Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

IAIH Pancor Pastikan Kampus Aman dari Kekerasan Seksual

Supardi/Bapak Qila • Senin, 8 September 2025 | 18:59 WIB
Salah seorang pemateri dari Unit PPA Polres Lotimbsaat memberikan materi kepada mahasiswi baru di IAH Pancor terkait Kekerasan Seksual pada seminar keperempuanan tentang kekerasan seksual
Salah seorang pemateri dari Unit PPA Polres Lotimbsaat memberikan materi kepada mahasiswi baru di IAH Pancor terkait Kekerasan Seksual pada seminar keperempuanan tentang kekerasan seksual

Lombok Post-Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) NWDI Pancor membentuk satgas pencegahan tindak kekerasan seksual. Langkah ini untuk memastikan segala bentuk kekerasan seksual maupun fisik, tidak terjadi di lingkungan kampus.

"Sebenarnya satgas ini sudah kami launching tahun 2024 lalu," terang Wakil Rektor III IAIH Pancor Dr Abdul Hayyi Akrom, saat seminar keperempuanan terkait kekerasan seksual, Sabtu (6/9).

Satgas ini aktif melakukan sosialisasi terkait kekerasan seksual di kampus. Jika ada laporan berkaitan dengan perilaku kekerasan seksual yang dialami mahasiswi maupun sivitas akademik, akan langsung ditindaklanjuti oleh satgas.

Pembentukan tim ini dinilai penting karena kampus harus bersih dari segala bentuk tindakan kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Keberadaan satgas memastikan kampus terbebas dari perilaku menyimpang.

"Setiap ada laporan atau tindakan yang mengarah ke perilaku menyimpang akan dilaporkan. Tapi Alhamdulillah sampai saat ini belum ada laporan yang masuk, tapi harus kita antisipasi," katanya.

Selain itu, kampus juga menetapkan aturan bahwa setiap tindakan kekerasan seksual menjadi pelanggaran berat di lingkungan sivitas akademik IAIH Pancor. Ditegaskan, siapa pun pelaku kekerasan seksual, dosen, mahasiswa, maupun unsur lainnya, akan diberikan sanksi tegas, yakni dikeluarkan dari kampus.

"Ini sebagai bentuk komitmen dan langkah tegas kita untuk memberikan keamanan dan kenyamanan dari tindakan-tindakan menyimpang di lingkungan kampus," tutupnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lotim Fathiyah menyampaikan, keberadaan satgas ini menjadi langkah deteksi dini kekerasan seksual di kampus, khususnya di IAIH Pancor.

"Tindakan kekerasan seksual bukan hanya dalam bentuk berhubungan. Namun banyak modelnya, seperti kekerasan verbal dan nonverbal, bullying dengan menyebut anggota tubuh juga termasuk kategori kekerasan seksual," jelasnya.

Kekerasan seksual dalam bentuk lain juga tetap menjadi atensi satgas, Unit PPA, dan DP3AKB Lotim. Satgas pencegahan kekerasan seksual IAIH Pancor dinilai membantu upaya pencegahan dan penanganan kasus di kampus.

Diharapkan, satgas lebih aktif mensosialisasikan keberadaannya terutama kepada mahasiswi baru, agar mereka merasa terlindungi dan nyaman selama beraktivitas di kampus.

"Selama ini banyak mahasiswi yang tidak berani speak up karena tidak ada relasi dan tidak tahu mau melapor di mana," katanya.

Korban kekerasan seksual diharapkan berani bicara. Saat ini banyak lembaga yang bisa menjadi tempat mengadu. Jika dibiarkan, korban akan semakin banyak dan jenis kekerasan semakin beragam.

Diakui, ada kasus yang terjadi di lingkungan kampus, namun diselesaikan secara internal sehingga tidak sampai dilaporkan ke Unit PPA Lotim maupun DP3AKB Lotim.

"Kami pernah melakukan sosialisasi di luar kampus, dan ternyata ada yang bercerita bahwa mereka pernah mengalami kekerasan seksual. Namun mereka tidak berani bersuara, mereka takut diintimidasi dan lainnya, karena saat itu mereka juga dalam proses skripsi dan itu yang membuat mereka tidak berani bicara," tutupnya. 

 

 

Editor : Pujo Nugroho
#kekerasan Seksual #seminar #Lotim #kampus