Hujan deras dua hari dua malam mengubah wajah ladang tembakau di Dusun Lauk Kebon, Desa Sukadana, Kecamatan Terara. Daun yang biasanya hijau segar kini menguning, layu, dan mati. Puluhan hektare tanaman petani terancam gagal panen, meninggalkan kerugian ratusan juta rupiah.
---------------------------------------------
Memasuki jalan Dusun Lauk Kebon, hamparan tembakau petani tampak menguning. Namun bukan kuning siap panen, melainkan kuning karena layu dan terserang penyakit.
Semakin jauh menyusuri jalan berbatu itu, pemandangan makin memprihatinkan. Puluhan hektare tanaman tembakau terlihat kering dan mati. Harapan untuk menyelamatkan ladang itu hampir tidak ada.
Begitu pula tanaman milik Lalu Sukardi, petani asal Dusun Lauk Kebon. Dari dua hektare lebih areal tanamnya, sekitar satu hektare kini rusak parah. Hujan deras yang mengguyur selama dua hari dua malam membuat tembakau miliknya tergenang.
“Jika hujan turun lagi saya pastikan sudah tidak bisa diselamatkan,” terang Lalu Sukardi saat ditemui Lombok Post di oven tembakaunya, Minggu (14/9).
Sehari setelah hujan, ia sempat memberi perawatan. Namun tanaman tetap layu dan menguning. Sukardi hanya bisa pasrah menghadapi kenyataan. Jika hujan kembali turun dalam intensitas tinggi, sisa tanamannya dipastikan mati total.
“Kemungkinan untuk hidup sangat kecil. Kalau turun hujan lagi, maka tidak ada harapan bisa diselamatkan dan pasti semuanya mati,” ungkapnya.
Hingga kini ia baru sekali panen. Dari dua hektare lahan, diperkirakan hanya satu hektare yang bisa dipanen maksimal. Kerugian pun membayangi, mencapai ratusan juta rupiah.
Menurut Sukardi, modal tanam per hektare menelan biaya sekitar Rp 70 juta hingga siap panen, belum termasuk ongkos panen, kayu bakar, dan upah buruh.
Baca Juga: Harga Tembakau Anjlok, Petani Terancam Rugi
“Belum setelah panen, karena biaya produksi tembakau ini banyak setelah panen, makanya perkiraan saya kerugian tembus Rp 100 juta, bahkan lebih,” katanya.
Kerugian tak hanya dari tanaman yang mati. Kualitas tembakau tahun ini rata-rata kurang bagus, banyak yang berwarna cokelat. Perusahaan enggan membeli tembakau dengan kualitas seperti itu.
Harga pun jatuh. Tembakau cokelat hanya laku Rp 1 juta per kuintal. Padahal tahun lalu harga bisa menembus hingga Rp 4 juta per kuintal.
“Sekarang harga tertinggi itu di harga Rp 5 juta. Kalau tahun 2023-2024 itu tertinggi Rp 7,5 juta per kuintal. Kemungkinan untuk berhasil tahun ini sangat kecil. Kalaupun ada petani yang untung, sangat kecil,” jelasnya.
Kondisi serupa terjadi di Desa Sukadana, Desa Rarang, dan wilayah sekitar. Tanaman tembakau banyak yang mati akibat hujan deras beberapa hari lalu. Tak sedikit pula yang terserang busuk akar.
Sukardi berharap pemerintah turun tangan. Jika tidak bisa memberi asuransi, setidaknya ada intervensi agar tembakau cokelat bisa tetap diserap perusahaan dengan harga lebih layak.
“Sekarang rata-rata produksi tembakau petani kualitasnya kurang bagus, sementara yang cokelat tidak dibeli perusahaan. Untuk itu kami harap pemerintah bisa meminta perusahaan supaya bisa membeli tembakau petani yang kualitasnya kurang bagus, kalau tidak mau dibeli, kami mau jual kemana?” tutupnya. (*/r7)
Editor : Redaksi Lombok Post