Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Derita Tiga Generasi Tinggal di Gubuk Reyot di Ujung Desa Sekaroh Bertahan dari Upah Serabutan, Jika Cuaca Buruk Terpaksa Mengungsi ke Gazebo Tetangga

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 16 September 2025 | 20:34 WIB
Sekar (kiri) dan anaknya Saminah duduk termenung di dalam rumah reot mereka yang akan roboh, Senin (15/9).
Sekar (kiri) dan anaknya Saminah duduk termenung di dalam rumah reot mereka yang akan roboh, Senin (15/9).

Hidup di rumah reyot berukuran 2x3 meter, tanpa dapur dan kamar mandi, menjadi kenyataan pahit yang dijalani Saminah, 65 tahun bersama ibunya Sekar dan cucunya Azmi. Di tengah rapuhnya dinding bedek yang dimakan rayap dan atap bolong yang tak mampu menahan hujan, mereka tetap bertahan di ujung Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur (Lotim).

LOKASI rumah reyot itu berada tepat di ujung jalan hotmix menuju Pantai Telone, Desa Sekaroh. Dinding bedeknya lapuk dimakan rayap, membuat angin pantai selatan bebas keluar masuk. Atapnya berlubang di banyak bagian, sehingga air hujan mudah menetes ke dalam rumah.

Lantai rumah hanya tanah yang tidak rata. Di dalamnya ada kasur, lemari kecil yang tak bisa tertutup rapat, serta kain lusuh yang menggantung di setiap sudut. Di rumah berukuran sekitar 2x3 meter itu, Saminah 65 tahun tinggal bersama ibunya, Sekar, yang usianya sudah di atas 100 tahun dan cucunya Azmi, 14 tahun. Hanya ada satu kamar tanpa dapur dan kamar mandi. Tak ada perabot mewah, hanya kompor gas yang sudah berkarat dan sebuah bola lampu.

“Sudah puluhan tahun kami tinggal di sini,” terang Saminah, saat ditemui Lombok Post, Senin (15/9).

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Saminah bekerja sebagai buruh lepas. Ia menerima upah Rp 20 ribu-Rp 30 ribu per hari dari pekerjaan panen tembakau, jagung, padi, atau pekerjaan serabutan lainnya. Cucunya kadang ikut membantu selepas pulang sekolah. Hasil yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur, bahkan sering kurang.

“Cukup untuk makan saja. Saya juga beternak kambing, tapi hanya ambil upah, karena kambingnya milik orang, kita bagi hasil,” katanya.

Air bersih mereka ambil dari sumur warga yang cukup jauh dari rumah. Sumur itu juga dipakai untuk mandi dan mencuci. Saat musim kemarau, mereka harus membeli air. Rumah reyot itu tak hanya untuk tidur dan memasak, tapi juga menjadi tempat mandi Sekar.Kondisinya yang sudah tidak bisa berjalan membuatnya mustahil ke sumber mata air.

“Kalau ibu (Sekar) saya mandikan di sini, karena dia tidak bisa berjalan. Dan tidak kuat untuk digendong, karena saya juga sudah tua. Mau tidak mau kita mandikan di dalam rumah,” jelasnya.

Masa paling berat adalah ketika cuaca buruk. Saat hujan deras, mereka mencari sudut rumah yang lebih aman. Sekar ditutup dengan selimut dan terpal agar tidak basah. Jika hujan disertai angin kencang, mereka sering mengungsi ke gazebo milik tetangga.Saminah takut rumah rapuh itu roboh dan menimpa mereka.

“Kalau hujan saya tutup dia (Sekar) menggunakan selimut, kemudian saya taruh di pojok agar tidak terkena hujan. Kemudian saya di pojok sebelah kanan duduk pakai selimut terpal bersama anak saya,” bebernya.

Saminah bercerita, keluarganya merupakan penduduk pertama di Desa Sekaroh. Meski hidup miskin dan menempati rumah reyot, bantuan dari pemerintah tak pernah ia dapatkan. BPJS Kesehatan pun tidak punya, hanya KTP yang baru dibuatkan petugas Dukcapil Selong.

Ketua RT Dusun Telok Dalem Jumrah mengatakan, sejak dua tahun terakhir Saminah memang sudah menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT). Namun untuk bantuan rumah, meski sering diajukan, tak kunjung terealisasi.

“Kalau bantuan rumah sudah sering kami ajukan. Tetapi hanya di foto-foto saja. Tapi sejak videonya viral banyak petugas yang datang, mudah-mudahan bisa segara mendapatkan bantuan rumah,” tutupnya. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#rumah reot #miskin ekstrem #Lotim #miskin