Anak muda asal Praya Lombok Tengah ini memilih jalan berbeda. Alih-alih bekerja tetap di kafe ternama, ia berkeliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain dengan kedai kopi berjalan yang dinamainya rumah kopi.
Pagi itu sebuah tenda kecil berdiri di samping gerbang keluar Gedung Bupati Lombok Timur (Lotim). Sejumlah botol dan gelas berjejer rapi di atas meja lipat sederhana. Beberapa biji kopi dan teh dipajang menghadap badan jalan.
Seorang pemuda tampak sibuk meracik minuman. Tangannya cekatan mencampur berbagai bahan. Dialah Muhammad Asrio Romdi, pemilik rumah kopi, sebuah kedai kopi keliling.
Asrio merupakan pemuda asal Praya Lombok Tengah (Loteng). Meski tinggal di Praya, ia kerap berjualan di sejumlah tempat di Lotim karena rumah kopi miliknya dikonsep sebagai kedai berjalan.
"Kami sering di Lotim. Kami ke sini (Lotim) kemarin pada saat peringatan ultah NWDI ke-90 tahun. Setelah itu balik ke Loteng dan hari ini kami balik lagi ke Lotim," terang pria yang akrab disapa Rio itu kepada Lombok Post, Selasa (16/9).
Selain di Lotim, ia juga kerap keliling ke wilayah lain, seperti Kota Mataram dan Lombok Barat (Lobar). Bahkan setiap ada event besar di NTB ia selalu hadir.
Tidak jarang ia harus bolak-balik dari satu kabupaten ke kabupaten lain. Seperti beberapa hari lalu, ia harus bolak-balik Loteng-Lotim untuk menghadiri event di Sirkuit Mandalika dan Ultah NWDI.
"Saat acara car free day (CFD) dan Car Free Night (CFN) di Taman Rinjani Selong, kami selalu hadir. Pun dengan CFD di Kota Mataram," jelasnya.
Ilmu meracik kopi ia dapat dari pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK) Loteng. Setelah menyelesaikan pelatihan, ia sempat bekerja di salah satu kafe ternama di Loteng sebagai barista, namun tidak lama.
Ia kemudian memilih membuat kedai kopi berjalan yang dinamakan rumah kopi. Menurutnya, konsep ini lebih menguntungkan dan cepat berkembang dibanding menetap di satu tempat atau bekerja pada orang lain, meskipun gaji yang ditawarkan cukup besar.
"Tempat dan waktu lebih fleksibel saja dan lebih menguntungkan. Kalau diam di satu tempat atau bekerja di tempat orang, penghasilan dan pengalaman itu-itu saja. Kalau dengan cara begini bisa lebih berkembang, lebih enak santai aja," jelasnya.
Dalam satu event, paling minim ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 500 ribu per hari. Akan lebih banyak lagi jika di event skala besar, seperti ultah NWDI.
Selain kedai berjalan, ia juga memiliki rumah produksi di rumahnya. Ia berencana selain menjual berbagai olahan kopi, juga menjual kopi dalam bentuk biji yang biasa ia datangkan dari Desa Sajang, Kecamatan Sembalun.
"Kopinya lebih enak. Turis-turis lebih senang kopi lokal. Tapi kita olah menjadi minuman kekinian, seperti Americano, Vietnam drip dan lainnya. Kalau turis lebih senang yang Americano," katanya.
Menurutnya, peminat kopi saat ini cukup tinggi terutama kalangan anak muda. Karena itu, ia berencana mengembangkan kedai berjalannya dengan membuat gerobak agar pemasaran lebih luas.
Meski kini banyak bisnis kopi keliling (kopling), namun kopi miliknya tidak kalah saing. Bahkan tidak sedikit pencinta kopi lebih senang dengan racikannya. Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 10 ribu.
"Kalau kami jualan di Mandalika dan Pantai Tanjung Aan yang banyak dicari itu kopi lokal. Kemarin kami buat satu produk kopi kemasan saat ada event di Sirkuit Mandalika dan sangat laku," tutupnya. (*/r7)
Editor : Prihadi Zoldic