LombokPost - Puluhan hektare sawah petani di Desa Tembeng Putik, Kecamatan Wanasaba rusak diterjang banjir setelah tanggul Sungai Tanggek jebol, Kamis (18/9) malam. Kerusakan ini membuat petani merugi hingga puluhan juta rupiah.
"Kalau saya luas lahan yang terdampak 40 are. Tetapi kalau kita totalkan di dua lokasi ini, ada sekitar 10 hektare yang lebih yang terdampak," terang Murni salah seorang petani di Desa Tembeng Putik, Minggu (21/9).
Derasnya aliran sungai merusak tanggul dan meluap ke sawah. Air tidak lagi melalui jalur semestinya, tetapi membuat alur baru di tengah sawah warga.
Sawah petani kini dipenuhi bebatuan, sampah, kayu besar, dan pasir. Tanaman padi, tomat, cabai, hingga sayuran habis terbawa arus.
"Yang saya tanam cabai, belum sempat dipanen, tanamannya baru berusia dua bulan. Sawah saya yang paling parah terdampak, karena paling berdekatan dengan sungai," imbuhnya.
Ia memperkirakan kerugiannya sekitar Rp 40 juta hanya untuk biaya tanam cabai dan padi. Belum termasuk biaya sewa lahan dan lainnya.
Ia berharap pemerintah kabupaten (Pemkab) Lotim turun langsung memantau kondisi di lapangan serta membantu petani membersihkan pohon besar dan sampah yang menutup sawah.
"Dengan kondisi sekarang ini tidak bisa ditanami lagi, karena selain banyak bebatuan dan pasir, juga sawahnya banyak berlubang. Sehingga ini butuh alat berat untuk memperbaikinya," ungkapnya.
Petani lain, Mulyati, juga mengalami kerugian. Sawah dan tanamannya hanyut terbawa banjir. Padi yang sudah berbuah dan tomat yang mulai panen rusak diterjang air.
"Kalau tomatnya setengahnya habis hilang dan setengahnya bisa diselamatkan, kalau tanaman padi semuanya habis terbawa air, dan modal yang sudah keluar sebanyak Rp 50 juta lebih," katanya.
Ia berharap pemerintah memberi bantuan agar kerugian petani tidak terlalu besar serta membantu memulihkan lahan yang kini dipenuhi pasir, batu, dan sampah.
"Tanggulnya kami harap bisa segera diperbaiki, supaya ketika air sungainya besar tidak banjir lagi. Dan kami juga harap pihak terkait bisa membantu untuk memperbaiki sawah kami, karena kalau begini kondisinya tentu tidak bisa dimanfaatkan lagi," jelasnya.
Jika perbaikan dilakukan manual, menurutnya akan memakan waktu lama dan biaya besar karena kerusakan lahan sangat parah. Selain merusak lahan pertanian, banjir juga merusak saluran air bersih ke delapan desa sehingga warga kesulitan mendapatkan air.
"Sekarang rata-rata masyarakat mencuci dan mandi di sungai, kalau minum mereka beli air galon. Sebelum tidak ada yang mandi dan mencuci di sungai," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam