Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Belanjakan, Olahraga Tradisional Warisan Leluhur, Dulu Jadi Hiburan Petani Usai Panen, Kini Didorong Bisa Pentas di Level Nasional

Supardi/Bapak Qila • Senin, 22 September 2025 | 20:19 WIB
Dua orang petarung sedang adu kekuatan di atas arena Belanjakan yang digelar di lapangan umum Kecamatan Masbagik, sejak tanggal 16-22 September tingkat NTB, Minggu (21/9).
Dua orang petarung sedang adu kekuatan di atas arena Belanjakan yang digelar di lapangan umum Kecamatan Masbagik, sejak tanggal 16-22 September tingkat NTB, Minggu (21/9).

LombokPost - Jerami kering menjadi saksi, dua pria beradu tenaga di tengah lingkaran penonton. Inilah Belanjakan, seni bela diri tradisional Lombok yang dulu hampir hilang, kini bangkit sebagai simbol ketangguhan dan kebanggaan masyarakat.

Hari mulai meredup, namun semangat dua pria bertubuh kekar itu tak ikut surut. Dengan hanya mengenakan kain sebagai kancut, mereka saling kunci dan banting di atas arena. Sorak-sorai penonton membahana, memberi energi pada pertarungan yang dikenal dengan nama Belanjakan.

Di Desa Masbagik, olahraga tradisional ini kembali menghidupkan ingatan lama. Puluhan petarung dan pegiat bela diri se-Provinsi NTB berkumpul, menguji kekuatan dan keterampilan mereka.

Mirzanil Hamdi, pegiat olahraga Belanjakan di Desa Masbagik, menuturkan bahwa tradisi ini awalnya hanyalah permainan rakyat saat panen padi tiba, dimainkan pada malam hari di bawah sinar bulan purnama.

“Belanjakan ini merupakan tradisi yang sudah lama di Desa Masbagik. Zaman dulu permainan ini dilakukan pada malam hari ketika terjadi bulan purnama, terutama setelah panen padi,” terang Mirzanil Hamdi, Minggu (21/9).

Permainan ini dulunya menjadi hiburan sederhana bagi para petani, sekaligus ajang melatih fisik pemuda Lombok. Latihan itu penting, sebab pada masa penjajahan hanya kekuatan tubuh dan teknik bela diri yang bisa diandalkan.

“Orang-orang tua kita dulu melawan penjajah hanya mengandalkan fisik mereka. Sehingga olahraga ini menjadi salah satu cara untuk melatih fisik,” katanya.

Seiring perkembangan zaman, Belanjakan yang awalnya hanya bertumpu pada kuncian dan bantingan kini berkembang dengan variasi teknik. Ada pengaruh dari berbagai bela diri modern seperti taekwondo dan muaythai. Namun aturan tetap dijaga, tidak boleh memukul sembarangan, terutama di bagian kelamin, wajah, atau melakukan cakaran.

“Karena olahraga ini merupakan tradisi, sehingga tidak perlu menggunakan alat pelindung diri (APD), sebagian besar petarung ini dari sasana bela diri,” katanya.

Belanjakan mengandalkan kekuatan otot, mencerminkan karakter keras dan ulet orang Lombok. Sebab sebagian besar pemainnya dahulu adalah petani yang memainkan tradisi ini di sawah beralaskan jerami kering.

Tradisi ini sempat hilang hampir 25 tahun, terkubur karena sering berujung konflik. Namun masyarakat Masbagik kembali menghidupkannya dalam beberapa tahun terakhir.

“Pada tahun ini, pertarungan belanjakan pertama kali diadakan tingkat NTB. Kalau sebelumnya hanya dilakukan di tingkat kecamatan dan desa saja,” katanya.

Kini, aturan lebih tertata. Petarung diukur tinggi dan berat badannya untuk memastikan lawan seimbang. Antusiasme masyarakat begitu besar, bahkan ada harapan Belanjakan bisa menjadi cabang olahraga resmi.

“Belanjakan kami harapkan bisa menjadi event nasional. Adanya keterlibatan Pemprov pada event tahun ini, tentu akan semakin menguatkan budaya Belanjakan ini masuk event nasional,” ujarnya.

Rencana pun mulai digagas, membentuk kepengurusan olahraga Belanjakan di setiap kabupaten/kota di NTB agar tradisi ini semakin dikenal. “Alhamdulillah karena dari belanjakan ini sudah banyak mencetak atlet bela diri yang berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional,” tutupnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#belanjakan #bela diri #Lotim