Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Abdul Gani, Polisi Peracik Bumbu Pepes nan Lezat

Supardi/Bapak Qila • Senin, 29 September 2025 | 18:26 WIB

Aipda Abdul Gani menaruh bumbu pada ikan yang nantinya dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar, sehingga menjadi hidangan menggugah selera.
Aipda Abdul Gani menaruh bumbu pada ikan yang nantinya dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar, sehingga menjadi hidangan menggugah selera.
 

Lombokpost-Dari balik seragam polisi, Aipda Abdul Gani menyimpan kisah lain yang tak kalah menarik. Bhabinkantibmas Desa Timbanuh ini bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga meracik cita rasa khas lewat pepes ikan buatannya. Usaha rumahan yang ia mulai dari coba-coba untuk keluarga, kini menjelma jadi kuliner popular. 

Asap tipis mengepul dari celah atap rumah, menebar aroma ikan bakar yang menggoda. Beberapa orang terlihat lalu lalang menenteng plastik berisi makanan terbungkus daun pisang.

Di sela rumah itu, seorang polisi duduk mengoleskan sambal pada ikan yang baru dipanggang, lalu menutupnya dengan daun pisang sebelum dibakar kembali. Dialah Aipda Abdul Gani, pemilik rumah pepes ikan Pringgasela yang cukup terkenal di Lombok Timur (Lotim) bahkan hingga luar daerah. Usaha yang ia rintis sejak 2019 itu kini berkembang pesat.

"Awal mulai usaha ikan pepes ini pada tahun 2019 lalu, awalnya saya coba-coba untuk kebutuhan keluarga dulu," terang Abdul Gani, Minggu (28/9).

Sebelum dikenal dengan usaha pepes, Abdul Gani hobi memancing. Ikan hasil pancingan dibudidayakan hingga jumlahnya semakin banyak. Dari situ, ia sempat menjadi pembudidaya dan pedagang ikan segar. Melihat hasil ikan yang melimpah, ia pun terpikir untuk mengolahnya menjadi pepes.

Sebelumnya, ia sempat membuka rumah makan. Namun usaha itu tak bertahan lama karena sepi pengunjung. "Sempat buka lesehan, tapi pembeli tidak terlalu banyak," ujarnya.

Untuk mendapatkan cita rasa khas, ia beberapa kali mengganti racikan bumbu. Setelah bumbu dirasa pas, ia mulai memasarkan pepes ikannya ke orang-orang terdekat melalui online. Responsnya mengejutkan, banyak yang ketagihan dengan pepes buatannya.

"Dari sana kami mulai fokus untuk buat dan pasarkan secara online, dan ada juga yang datang langsung," katanya.

Cerita pepes ikan Abdul Gani menyebar dari mulut ke mulut. Pesanan datang dari berbagai daerah, termasuk Jawa, Bali, dan Sumbawa. Bahkan, setiap bulan ia rutin mengirim pepes ikan dan ayam ke luar daerah.

Meski tidak memiliki rumah makan, Abdul Gani menyiapkan tempat bagi pembeli yang ingin menyantap langsung di lokasi. Namun kebanyakan memilih memesan secara online dan mengambil sendiri. Menurutnya, pepes ikan buatannya satu-satunya di Lotim dengan cita rasa khas.

Pesanan terus berdatangan. Pada bulan puasa dan maulid, penjualan bisa tembus 180-200 ekor per hari. Karena tingginya permintaan, pembeli biasanya harus memesan satu hingga dua hari sebelumnya. Harga pepes ikan bervariasi, ikan tawar dijual Rp 15 ribu per ekor, ayam kampung Rp 60 ribu per ekor, sedangkan ikan laut Rp 15 ribu-Rp 17 ribu per ekor.

"Alhamdulillah dari usaha ini, sekarang saya sudah punya pekerja tetap enam orang. Kalau lagi ramai kita berdayakan masyarakat sekitar," ungkapnya.

Aroma daun kemangi, daun jeruk, dan sereh yang dipadu daun pisang menjadikan pepes ikan Abdul Gani harum dan khas. Bumbu-bumbu yang digunakan sebagian besar berasal dari lahan miliknya atau petani sekitar. Cara ini menjaga kesegaran sekaligus cita rasa pepes ikannya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#Ikan Pepes #Polisi #Kuliner #Lotim