Lombokpost-Enam titik pengerukan bukit di Kecamatan Sembalun ditutup Satpol PP bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Timur karena tidak memiliki izin. Aktivitas tanpa dokumen resmi itu diduga untuk pembukaan jalan dan pembangunan penginapan.
"Setelah adanya informasi dari masyarakat, kami langsung turun bersama tim untuk patroli, dan ada sekitar 6 titik yang kami tutup karena tidak memiliki izin," terang Kasat Pol PP Lotim Selamet Alimin, Kamis (2/10).
Saat penutupan, lokasi dalam kondisi sepi aktivitas, bahkan di beberapa titik tidak ditemukan alat berat. Selamet menyebut, pengerukan itu sebelumnya sudah mendapat sorotan berbagai pihak.
Di antaranya Komunitas Pemerhati Lingkungan Hidup, Sembalun Pencinta Alam (KPLH-Sembapala), Solidaritas Masyarakat Peduli Sembalun (SMPS), dan masyarakat sekitar.
"Aktivitas ini bahkan sebelumnya sempat viral di media sosial. Sehingga kami bersama DLH langsung ke lapangan untuk mengecek kondisinya," ujarnya.
Terpisah, Kepala DLH Lotim Supardi membenarkan penutupan enam titik pengerukan bukit di Sembalun tanpa izin.
"Saat kami datang kondisinya sudah dikeruk. Dan saat kami tanya izin dan sebagainya tidak ada sama sekali. Makanya kami bersama Satpol PP dan aparat yang lain langsung menutup lokasinya," katanya.
Baca Juga: Warga Sembalun Bumbung Dilatih Pengemasan Produk, Peningkatan Nilai Tambah Jamur Merang
Menurutnya, salah seorang pemilik dan pengelola lahan mengaku pengerukan dilakukan untuk lahan pertanian. Namun fakta di lapangan menunjukkan sudah ada tanda-tanda pembangunan.
"Kita sudah tahu mereka mau buat apa, karena kita menemukan sudah ada dipasangkan batu, untuk pembuatan semacam penginapan," jelasnya.
Informasi pengerukan itu diketahui setelah video beredar di media sosial. Temuan ini ditindaklanjuti dengan rapat koordinasi di kantor Kecamatan Sembalun sebelum dilakukan penutupan.
Baca Juga: Budi Daya Jamur di Sembalun, Warga Beralih ke Biogas agar Ramah Lingkungan
Selain ilegal, aktivitas pengerukan bukit ini dinilai merusak lingkungan dan berpotensi menimbulkan longsor.
"Kan yang dikeruk ini bukit ada sekitar enam lokasi kemarin kami datangi, ini kan sangat bahaya, bisa-bisa nanti terjadi longsor," tutupnya.
Editor : Siti Aeny Maryam