Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Mengunjungi Repok Literasi dengan Misinya Melahirkan Petani Smart

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 14 Oktober 2025 | 17:27 WIB
Salah seorang petani di Desa Banjar Sari saat praktek penyemprotan di Repok Literasi setalah mendapatkan materi pencampuran pupuk dan pestisida dari salah seorang pendamping, Senin (13/10)
Salah seorang petani di Desa Banjar Sari saat praktek penyemprotan di Repok Literasi setalah mendapatkan materi pencampuran pupuk dan pestisida dari salah seorang pendamping, Senin (13/10)

Lombokpost-Di tengah kesibukan kota, sebuah rumah sederhana di Lombok Timur menjadi oase pengetahuan bagi petani. Melalui Repok Literasi, Muhir dan komunitasnya menanam semangat baru untuk bertani cerdas di tengah perubahan iklim, dengan teknologi, pendampingan, dan praktik langsung di pekarangan.

Tak jauh dari hiruk pikuk perkotaan, sebuah gazebo berdiri di tengah kolam ikan berukuran besar, di samping sebuah rumah sederhana. Di pekarangannya, yang diberi nama Repok Literasi atau Gubuk Literasi, aneka sayur-mayur tumbuh subur menghijau.

Koordinator Repok Literasi Muhir mengatakan, pekarangan menjadi pusat literasi, khususnya di bidang pertanian, sebagai wadah edukasi bagi petani untuk mengatasi tantangan pola tanam, terutama di masa peralihan musim.

"Kami ingin petani memiliki pengetahuan yang luas terkait pertanian, terutama dalam pengelolaan tanah, pra tanam sampai dengan panen," jelas Muhir, Senin (13/10).

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya peningkatan literasi pertanian di tingkat desa. Perubahan cuaca yang tidak menentu diakui kerap membuat petani kesulitan menentukan waktu tanam dan jenis tanaman yang sesuai.

Melalui Repok Literasi, ia bekerja sama dengan berbagai pihak berkompeten untuk memberikan pemahaman tentang cara bertani yang baik dan benar.

"Selain itu para petani ini kita berikan pendampingan langsung. Sehingga kita harapkan petani betul-betul paham pola tanam yang adaptif terhadap kondisi cuaca saat ini," ujar mantan Camat Labuhan Haji itu.

Di Repok Literasi, petani mendapatkan materi tentang penyesuaian musim tanam, pemilihan varietas tahan cuaca, hingga teknik pengelolaan tanah dan pemanfaatan air secara efektif dan efisien.

Menurutnya, selama ini petani di Lotim maupun daerah lain masih bertani tanpa memperhatikan pola tanam yang sesuai dengan musim. Hal ini kerap membuat mereka merugi.

"Asal tanam saja. Sehingga risiko gagal panen sangat besar dan hasil pertanian mereka tidak maksimal," katanya.

Ia menilai, pola pertanian yang berkembang di tengah masyarakat merupakan kebiasaan turun-temurun, tanpa mempertimbangkan kondisi cuaca, jenis tanaman yang cocok, atau rotasi lahan yang tepat.

Padahal, pola tanam yang tidak sesuai musim dapat menyebabkan berbagai masalah, mulai dari serangan hama, kekurangan air, hingga ketidaksesuaian masa panen.

"Sehingga pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pertanian melalui pemahaman yang lebih baik. Terutama dalam pemilihan dan penerapan pupuk yang tepat," katanya.

Petani juga diberikan materi mengenai teknik pertanian modern, mulai dari penentuan jenis pupuk yang sesuai kebutuhan tanah hingga cara pengaplikasiannya pada tanaman.

Pemilihan pupuk yang tepat menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan bertani, karena selama ini banyak petani menggunakan pupuk secara asal tanpa mempertimbangkan kandungan unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

"Di Repok Literasi ini, kita tidak hanya berikan materi, tetapi kita langsung praktik," katanya.

Melalui edukasi ini diharapkan petani di Lotim bisa menjadi petani yang SMART dalam pengelolaan lahan di peralihan musim, sehingga mampu menciptakan pertanian berkelanjutan.

"Kami harap nantinya petani bisa dilibatkan sebagai pemasok kebutuhan Program MBG, karena tanaman yang kami kembangkan bebas dari risiko kimia, karena kita lebih menekankan penggunaan pupuk organik. Hasil pertanian Repok Literasi kita berikan kepada masyarakat, terutama ibu hamil, dan ibu yang memiliki balita," tutupnya.

Editor : Siti Aeny Maryam
#sayur #Pertanian #Smart Farming #Lotim