Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Abdul Gani Murad Pria Difabel Mencari Nafkah untuk Keluarga (1)

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 21 Oktober 2025 | 19:38 WIB
Abdul Gani Murad saat menjajakan dagangannya di Lotim, belum lama ini.
Abdul Gani Murad saat menjajakan dagangannya di Lotim, belum lama ini.

Lombokpost-Di atas sepeda motor tuanya, Abdul Gani Murad berkeliling kampung menjajakan ikan hias dan balon anak-anak. Dari roda kecil Scoopy itulah, ia menafkahi keluarga di tengah keterbatasan dua kakinya yang tak lagi bisa berjalan.

Ikan hias warni memenuhi jok sepeda motor matic jenis Scoopy. Plastik bening berisi ikan itu tergantung rapi di gerobak kayu sederhana. Di sisi gerobak, beberapa balon karakter anak-anak ikut menghiasi dagangan.

Dari usaha sederhana itu, Abdul Gani Murad, 54 tahun, warga Dusun Pernek, Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, menggantungkan hidupnya untuk menafkahi istri dan empat anaknya.

Meski kedua kakinya sudah tak bisa berjalan, Murad tak mau menyerah. Ia menolak bergantung pada belas kasihan orang lain.

“Saya malu sama tetangga kalau minta-minta, walaupun keadaan saya sekarang sudah tidak normal lagi. Tapi lebih baik saya bekerja daripada harus minta-minta,” beber Abdul Gani Murad, Senin (20/10).

Sebelum kondisinya seperti sekarang, Murad bekerja sebagai buruh serabutan dan penjual gulali keliling. Namun beberapa tahun lalu, ia mengalami kecelakaan saat berjualan. Kedua kakinya nyaris putus dan membuatnya tak bisa berjalan.

Saat kejadian, ia sempat mengira lukanya tidak parah karena tidak merasa sakit. Namun setelah diperhatikan, daging paha dan betisnya sudah rusak parah.

“Saya sempat menjalani perawatan beberapa bulan, dengan memasang pen di kaki. Namun sayang pemasangan pen di kaki membuat kaki saya semakin parah, bahkan membusuk,” ujarnya.

Kini tulang kakinya tidak lagi kuat menahan tubuh. Untuk berdiri, ia harus menggunakan tongkat. Ia sempat berencana melanjutkan pengobatan dengan bantuan biaya dari Jasa Raharja, namun harapan itu pupus. Klaim Jaminan Kecelakaan yang diajukan tak kunjung cair, meski seluruh persyaratan telah lengkap.

“Padahal saya disuruh menunggu uangnya masuk di rekening. Tapi sampai sekarang tidak ada kelanjutan dari (Jasa) Raharja itu,” bebernya.

Keterbatasan fisik tak membuatnya berhenti berjuang. Ia enggan menarik simpati orang dengan menjual kondisi tubuhnya. Murad justru berusaha mencari pekerjaan yang bisa ia lakukan di tengah keterbatasan, dengan berjualan ikan hias dan balon anak-anak keliling sejauh puluhan kilometer. Asalkan bisa membeli beras dan membiayai sekolah anak-anaknya.

“Kalau tidak kerja kita tidak bisa makan. Mau meminta-minta di tetangga saya malu. Tapi kalau ada yang memberi kita terima, karena banyak saudara dan tetangga yang sering kasih beras dan sayuran,” ujarnya.

Hasil jualan ikan hias dan balon jauh dari cukup. Seekor ikan ia jual Rp 5.000, dengan keuntungan hanya seribu rupiah. Sekali berkeliling, ia membawa 30 hingga 50 ekor ikan.

Tak jarang ia merugi karena sebagian ikan mati di perjalanan akibat jarak tempuh yang jauh, sementara ikan mati tetap harus dibayar.

“Memang ikan ini tidak pakai modal, kita jual dulu baru dibayar. Satu ikan dibayar Rp 4.000, makanya saya hanya dapat untung Rp 1.000 saja. Kalau ada ikan yang mati tetap dibayar. Tapi kalau terlalu banyak yang mati kadang dikasih diskon,” ungkapnya. (bersambung/r7)

Editor : Siti Aeny Maryam
#Lotim #miskin #difabel