Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Jejak Budi Daya Padi Lese yang Hampir Punah di Desa Jeruk Manis Lombok Timur (2-Habis)

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 18 November 2025 | 22:20 WIB
Nasipudin mengangkat padi Lese yang dijemur di sawahnya setelah selesai dipanen sebelum dimasukkan ke lumbung padi.
Nasipudin mengangkat padi Lese yang dijemur di sawahnya setelah selesai dipanen sebelum dimasukkan ke lumbung padi.

Lombokpost-Padi lese tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pangan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat bagi masyarakat Desa Jeruk Manis. Setiap ikatan padi menyimpan fungsi dan makna tersendiri, termasuk sebagai alat tukar yang sudah diwariskan sejak dulu.

Setelah dipanen, padi akan diikat menjadi beberapa bagian dan ukuran. Dari setiap ikatan itu bernilai. Sehingga pada zaman dahulu, padi lese bisa digunakan menjadi alat tukar.

Nasipudin menyebut ada beberapa istilah dalam mengikat padi lese yang sudah panen. Satu genggaman orang dewasa disebut satu Penjau, dua Penjau disebut satu Kenjau. Dua Kenjau digabung menjadi satu Rerek, dua Rerek digabung menjadi satu Cekel. Dua Cekel digabung menjadi satu Gutus, kemudian lima Cekel menjadi satu Daud.

“Pecahan tertinggi itu adalah satu Daud. Inilah yang digunakan orang tua kita dulu menjadi patokan harga semua barang, mau beli sapi, beli sawah maupun beli barang-barang yang lain. Kalau sudah hitungan Daud, maka barang yang dibeli itu dalam bentuk besar seperti tanah, ternak. Kalau Penjau itu transaksi dalam bentuk kecil,” katanya.

Transaksi ini bahkan masih dilakukan di beberapa daerah di Lombok ketika melamar wanita. Saat melamar, keluarga wanita akan melempar barang-barang, seperti tali, yang menandakan bahwa keluarga wanita menginginkan sapi.

Saat ini masyarakat yang budi daya padi lese disebut mulai bertambah. Sudah ada tiga petani yang aktif menanam padi lese. Ia mendorong semua petani di Desa Jeruk Manis kembali ke pertanian tradisional maupun organik. Hasil panen sebagian dikonsumsi dan sebagian dijual melalui paket wisata.

“Tamu-tamu mancanegara akan belajar memproses beras secara tradisional, mulai dari panen hingga menjadi beras maupun menjadi nasi,” katanya.

Beras padi lese juga banyak dipasarkan di Mandalika. Beras ini kini menjadi buruan. Satu kilogram dijual Rp 35.000. Ia menilai pertanian organik lebih menguntungkan dibanding pertanian konvensional, terutama dari segi kualitas.

Di lahan 40 are, ia bisa mendapatkan dua ton padi lese kering. Ia mengakui secara kuantitas pertanian organik menghasilkan lebih sedikit. Namun kualitasnya dinilai lebih menguntungkan karena irit biaya dan menghasilkan makanan sehat bebas bahan kimia.

“Saya ingin menjadikan Desa Jeruk Manis ini sebagai pusat makanan sehat dengan pertanian organik, salah satunya melalui pengembangan padi lese ini. Karena desa kita juga desa Pariwisata jadi pemasarannya akan lebih mudah dan lebih menguntungkan,” jelasnya.

Padi lese kini menjadi oleh-oleh wajib bagi tamu yang berkunjung ke Desa Jeruk Manis. Selain karena aromanya harum dan berbeda, padi ini juga dikenal sebagai makanan sehat. Saat ini padi lese hanya bisa ditemukan di desa tersebut, sehingga hal ini memperkuat keinginan masyarakat untuk terus mengembangkan benihnya.

Padi ini dulunya tumbuh subur di semua daerah di Lombok. Namun keberadaannya mulai hilang sejak pupuk kimia dan varietas padi baru masuk dengan hasil yang lebih banyak, sehingga padi lese perlahan ditinggalkan.

Masyarakat Desa Jeruk Manis dalam bertani tidak hanya memberi pupuk, tetapi memperlakukan tanaman layaknya manusia, terutama ketika padi mulai berbuah. Berbagai ritual adat dilakukan, seperti ritual yang diberikan kepada ibu hamil yang baru melahirkan, agar tanaman tidak mudah terserang penyakit.

“Yang dipanen pertama kali itu harus Inan pade (ibu pad, Red), baru yang lain. Dan proses panen inan pade, dilakukan tokoh adat,” katanya.

Setelah panen selesai, padi yang pertama kali masuk ke lumbung adalah ibu padi, baru disusul padi lainnya. Ritual ini dilakukan agar selalu mendapat keberkahan. Hingga saat ini, tradisi tersebut masih ditemukan di Desa Jeruk Manis. (*/r7)

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#Pertanian #Padi #pertanian organik #Lotim #tradisional