Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melihat Acara Nunas Nede Masyarakat Desa Kesik

Supardi/Bapak Qila • Rabu, 19 November 2025 | 14:57 WIB
Tokoh adat Desa Kesik saat membawa air suci yang diambil mata air metak, untuk dibawa ke Lingkok ratu lokasi acara puncak gawe desa Nunas Nede.
Tokoh adat Desa Kesik saat membawa air suci yang diambil mata air metak, untuk dibawa ke Lingkok ratu lokasi acara puncak gawe desa Nunas Nede.

LombokPost-Menjelang akhir musim kemarau dan memasuki musim hujan, masyarakat Desa Kesik, Lombok Timur (Lotim) mengadakan acara gawe desa Nunas Nede. Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur dan harapan masyarakat untuk mendapatkan hasil panen yang melimpah di musim tanam mendatang.

Hari masih pagi, sekelompok gadis desa sudah rapi mengenakan lambung, pakaian adat khas suku Sasak. Mereka bersiap menunggu mangku adat untuk mengambil air dari sumber mata air Mertak, mata air yang dipercaya sakral oleh masyarakat sekitar.

Setelah prosesi di mata air selesai, air ditampung menggunakan ceret tanah untuk dibawa ke mata air Tirta Ratu, tempat berlangsungnya gawe desa Nunas Nede. Musik mengiringi perjalanan para gadis dan ibu-ibu Desa Kesik yang membawa ratusan dulang makanan untuk disantap bersama usai prosesi.

Kepala Desa Kesik M Kadri menyampaikan, Nunas Nede merupakan tradisi turun-temurun masyarakat sebagai ungkapan syukur atas datangnya musim hujan dan tanda dimulainya masa tanam padi. Dengan ritual ini masyarakat berharap hasil panen lebih melimpah.

“Untuk hari pelaksanaan acara ini ditentukan langsung mangku adat, sesuai perhitungan mereka,” beber Kadri, Selasa (18/11).

Jauh sebelumnya mangku adat sudah melakukan berbagai kegiatan di tujuh mata air dan lokasi yang dianggap sakral oleh masyarakat Desa Kesik. Gawe desa ini menjadi puncak acara Nunas Nede sekaligus peringatan hari jadi Desa Kesik ke 123 tahun.

Prosesi Nunas Nede dimulai dua minggu sebelumnya, diawali pembersihan tujuh mata air oleh mangku adat, pekasih dan seluruh subak. Acara dilanjutkan dengan ziarah ke makam tokoh masyarakat Desa Kesik.

“Setelah mengunjungi makam nenek moyang para tokoh-tokoh kami, dilanjutkan dengan menanam pohon di sekitar mata air, agar mata air di desa Kesik tetap terjaga,” katanya.

Ia menyebut, pada hari puncak, prosesi dimulai dengan pengambilan air suci di mata air Mertak, lalu dibawa ke sumber mata air kedua di Lingkok ratu. Air dari mata air itu diyakini membawa berkah bagi petani untuk lahan pertanian maupun kebutuhan lain.

Konon, mata air Tirta Ratu menjadi tempat mandi para ratu. Keyakinan itu diperkuat dengan bekas kaki di salah satu batu dekat mata air yang diyakini sebagai jejak ratu. Lingkok Tirta Ratu kini menjadi destinasi wisata dengan pemandangan terasering dan Gunung Rinjani yang memanjakan mata.

“Mudah-mudahan acara ini terus berkelanjutan sebagaimana yang telah diwariskan nenek moyang kita terdahulu, sehingga kearifan lokal, budaya kita dapat terlestarikan,” ujarnya.

Tradisi ini juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarkelompok, mulai dari kelompok tani, pemuda, hingga masyarakat umum di Desa Kesik. Kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kekompakan, persatuan dan gotong royong agar masyarakat tetap hidup rukun dan nyaman.

“Acara ini sebagai doa agar ke depan Desa Kesik hidup penuh dengan kedamaian, rukun mendapatkan hasil panen yang melimpah serta mudah-mudahan kekompakan dan gotong royong, serta kebersamaan kami tetap utuh seperti dahulu,” tutupnya. (*/r7) 

Editor : Prihadi Zoldic
#budaya #Lotim #Adat