Lombokpost-Wakil Bupati Lombok Timur (Lotim) Moh. Edwin Hadiwijaya menegaskan percepatan penurunan stunting harus didukung oleh perencanaan dan data yang baik, benar dan berkualitas.
"Perencanaan yang baik adalah setengah dari keberhasilan. Mari optimalkan SDM kita lebih efektif dan efisien, ” terang Wabup Lotim Moh. Edwin Hadiwijaya saat rapat Koordinasi Stunting tingkat Kabupaten, Selasa (30/12).
Rapat koordinasi yang melibatkan berbagi sektor tersebut mengusung tema 'Dengan Sinergi Dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting, Menuju Lotin SMART dalam Rangka Menyongsong Generasi Indonesia Emas 2045.
Wabup yang juga sebagai Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Lotim memberikan catatan dalam upaya pencegahan dan penurunan angka Stunting di Lotim, diantaranya ialah adanya perbedaan data.
Data stunting didasarkan pada berbagai sumber yakni data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
"Terjadinya perbedaan data ini dikarenakan adanya perbedaan metode dan pengambilan sampel, serta tujuan atau peruntukkan data. Karena itu kita harus bisa membaca data dengan baik dan memanfaatkannya dengan tepat," terangnya.
Baca Juga: Lombok Barat Fokus Cegah TB pada Anak Stunting, Kolaborasi Lintas Sektor Siap Digalakkan
Ia meminta perbedaan data ini tidak dijadikan pertentangan. Sebab menurutnya kedua data tersebut, yakni SSGI dan e-PPGM sama-sama benar. Karena masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.
Terpenting ialah bagaimana membaca sebuah data dan mengolahnya, dan mengakurasi hasilnya sehingga pas untuk penanganan stunting. Data SSGI akan menjadi kompas atau acuan untuk menentukan arah kebijakan dan capaian di Lotim.
"Sementara data e-PPGM menjadi alat untuk menuju ke arah tersebut. Untuk itu bukan hanya kuantitas, akan tetapi kualitas dan akurasi data mutlak diperlukan," katanya.
Karena itu, kalibrasi alat ukur dinilai menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan agar tidak terjadi bias data. Pemkab Lotim akan membuat SOP pengukuran yang benar, serta memberikan pelatihan dan sosialisasi bagi SDM yang bertugas melakukan pengukuran.
Selain itu, rekonsiliasi data dan evaluasi berkala akan dilakukan. Sehingga progres penangananan stunting lebih terukur dan terarah. ia berharap pertemuan ini dapat dimanfaatkan untuk perencanaan yang lebih baik ke depan.
“Kami mengajak kita semua untuk memanfaatkan pertemuan hari ini untuk berdiskusi sebagai bagian dari rangkaian perencanaan untuk tahun 2026, ” tutupnya.
Baca Juga: Wagub NTB: Sentuhan Kasih Orang Tua Bisa Bantu Turunkan Stunting Anak di Lotim
Sebelumnya, Kepala Bappeda Lotim Moh. Zaidarrohman yang juga Sekretaris TP3S Lotim mengingatkan meski di tahun 2025 telah banyak capaian dan inovasi yang telah diraih Lotim, baik penghargaan tingkat provinsi, nasional, bahkan internasional, akan tetapi, masih banyak catatan dan pekerjaan rumah (PR) di bidang kesehatan yang harus diselesaikan.
"Angka stunting di Lotim masih cukup tinggi yakni menempati posisi ke-9 dari 10 Kabupaten/Kota di NTB. Untuk itu kami berharap rakor ini akan melahirkan kesepakatan intervensi positif terutama untuk wilayah yang menjadi kantong stunting di Kecamatan maupun Desa," katanya.
Melalui rakor ini diharapkan juga dapat terbangun komitmen dari seluruh pihak yang berkepentingan dan kolaborasi bersama lintas sektor betul-betul bisa terwujud. Serta menjadi dasar pentingnya kebersamaan baik di tingkat Kabupaten, Kecamatan, maupun Desa untuk berpartisipasi untuk percepatan pencegahan dan penurunan stunting.
Editor : Siti Aeny Maryam