Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Perjuangan Husmini, Perempuan Kepala Keluarga untuk Masa Depan Anak

Supardi/Bapak Qila • Selasa, 24 Februari 2026 | 07:54 WIB

PEDAGANG KELILING: Husmini, 40 tahun, pedagang sayur keliling asal Dusun Banok, Desa Jurit Baru, menjajakan dagangannya di salah satu dusun yang ia lalui.
PEDAGANG KELILING: Husmini, 40 tahun, pedagang sayur keliling asal Dusun Banok, Desa Jurit Baru, menjajakan dagangannya di salah satu dusun yang ia lalui.

Lombokpost-Sejak suaminya meninggal, Husmini tak punya pilihan selain menjadi tulang punggung keluarga. Setiap pagi buta, ia menyusuri jalan desa yang sepi untuk berbelanja sayur, lalu berkeliling menjajakannya demi memenuhi kebutuhan hidup dan mewujudkan cita-cita anaknya bisa kuliah.

Sayur, sayur, sayur. Suara Husmini membelah jalan sunyi Dusun Gawah Malang, Desa Lendang Nangka Utara siang itu. Roda kendaraannya terhenti di ujung jembatan yang putus diterjang hujan lebat beberapa waktu lalu. Suaranya sudah akrab di telinga ibu-ibu sekitar yang hafal pangkalan Husmini sebelum ia melanjutkan perjalanan.

Benar saja, sejumlah ibu-ibu berdatangan membeli sayur-mayur yang dijajakan Husmini di gerobak besi sederhananya. Mereka tampak akrab saat tawar-menawar harga. Dari berdagang sayur keliling inilah Husmini menggantungkan hidup.

Husmini bercerita, menjadi pedagang sayur keliling sudah dijalani sekitar 5-6 tahun. Sejak ditinggal meninggal suaminya, ia menggantikan peran sebagai tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan dua anaknya.

"Sebelum jualan sayur keliling. Saya dulu menjadi buruh lepas bersama suami," terang Husmini, Minggu (22/2).

Sejak pagi buta, saat orang-orang masih terlelap, ia sudah bangun dan berangkat ke pasar. Ia menyusuri jalan hutan Dusun Banok, Desa Jurit Baru, Kecamatan Pringgasela. Dusun ini berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).

Meski seorang perempuan dan berjalan sendiri menyusuri gelapnya jalan perkampungan serta dinginnya malam, hal itu sudah dianggap biasa. Tanggung jawab dan cinta kepada kedua anaknya menjadi semangat setiap langkahnya.

"Selesai salat subuh, saya langsung berangkat dari rumah ke pasar Kotaraja untuk beli sayur," katanya.

Sejak ditinggal suaminya, ia bekerja keras. Dua anaknya saat ini masih bersekolah. Putri pertamanya segera menyelesaikan pendidikan SMA dan berencana melanjutkan ke perguruan tinggi. Sementara putra bungsunya masih duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD).

Ia mengatakan, semangat kerjanya datang dari keinginan anak pertamanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. "Mudah-mudahan Allah SWT selalu memberikan saya kesehatan, supaya bisa tetap jualan. Karena anak saya maunya harus kuliah," jelasnya.

Kebutuhan masyarakat selama bulan puasa cukup tinggi. Karena itu, bulan puasa menjadi bulan berkah baginya. Meski begitu, tidak semua dagangannya selalu habis terjual. Persaingan sesama pedagang sayur keliling juga cukup banyak.

"Kalau tidak habis terjual di jalan, saya jualan di rumah. Namun di rumah sepi, karena tinggal di dusun yang penduduknya tidak terlalu ramai, “katanya.

Pada awal berjualan, modal usaha diperoleh dari hasil bekerja sebagai buruh yang dikumpulkan. Karena itu, bantuan modal untuk pedagang kecil dari pemerintah sangat dibutuhkan. Namun ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi mengenai bantuan tersebut, apalagi menerima bantuan.

Meski demikian, Husmini tidak berkecil hati karena belum mendapatkan bantuan pemerintah. Bahkan kartu kesehatan pun belum ia miliki karena masuk kategori ekonomi desil enam.

Ia meyakini masih banyak jalan bagi Tuhan untuk memberikan rezeki bagi dirinya dan kedua anaknya. Ia percaya, dari hasil berjualan sayur keliling dan selama masih sehat, ia mampu mengantarkan anaknya menjadi sarjana.

"InsyaAllah tidak ada yang tidak mungkin kalau Tuhan berkehendak. Selama masih sehat, InsyaAllah keinginan anak untuk kuliah itu bisa terwujud," tutupnya. (*/r7)

Editor : Akbar Sirinawa
#kisah #Pedagang sayur #sayur #pedagang keliling #Lotim