Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pabrik Porang Masih Bergantung Pasokan Luar Daerah, Kebutuhan Produksi 60 Ton Per Hari

Supardi/Bapak Qila • Minggu, 26 April 2026 | 22:14 WIB
BAHAN BAKU: Tumpukan porang di pabrik pengolahan porang, Kecamatan Pringgabaya, sebagai bahan baku untuk pembuatan chips.( SUPARDI/LOMBOK POST )
BAHAN BAKU: Tumpukan porang di pabrik pengolahan porang, Kecamatan Pringgabaya, sebagai bahan baku untuk pembuatan chips.( SUPARDI/LOMBOK POST )

LombokPost - Ketersediaan bahan baku porang di Lombok Timur (Lotim) masih terbatas. Kondisi ini membuat pabrik pengolahan porang di Kecamatan Pringgabaya belum bisa sepenuhnya mengandalkan pasokan dari daerah setempat.

Bupati Lotim Haerul Warisin mengatakan bahwa sebagian besar bahan baku saat ini masih didatangkan dari luar daerah, seperti Pulau Sumbawa, Lombok Utara, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Kita memang masih mengandalkan daerah lain. Karena belum punya lahan yang memadai, kita baru punya lahan hanya sekitar 400 hektare,” katanya saat mengunjungi pabrik pengolahan porang, Jumat (24/4).

Baca Juga: DKP3 KLU Lakukan Pendataan Lahan Porang

Ia menjelaskan, dari sisi budi daya, porang relatif tidak rumit karena tidak membutuhkan pupuk kimia maupun penyemprotan pestisida secara rutin. Namun, proses budi dayanya masih dilakukan secara alami.

Selain itu, masa tanam yang cukup lama juga menjadi kendala. Umbi porang baru bisa dipanen dalam waktu 6 hingga 10 bulan, tergantung ukuran yang diinginkan.

“Umurnya bisa 6–10 bulan. Jadi itu kendala yang kita hadapi saat ini, sementara kebutuhan produksi per hari 60 ton,” ujarnya.

Baca Juga: Porang Lotim Target Ekspor ke China

Pemkab Lotim, lanjutnya, akan terus mendorong pengembangan porang. Salah satunya melalui kerja sama dengan Kementerian Sosial untuk pembinaan petani, termasuk bantuan benih dan sarana budi daya.

“Harga bahan baku porang saat ini Rp 10.200 per kilogram. Sejak beroperasinya, pabrik ini sudah mampu menyerap tenaga kerja lokal,” jelasnya.

Sementara itu, Manajer Pabrik Pengolahan Porang Dian Rahardian mengatakan, potensi pengembangan porang di Lotim cukup besar. Namun, dibutuhkan waktu untuk membangun ekosistem budi daya yang berkelanjutan.Baca Juga: Pabrik Porang Segera Beroperasi, Bentuk Pengembangan Industri di Lotim

“Potensi kita sangat bagus, tetapi kita harus membangun ekosistemnya. Karena sekarang kita butuh 60 ton bahan baku per hari,” katanya.

Ia menambahkan, saat ini pasokan bahan baku masih didominasi oleh Lombok Utara karena daerah tersebut lebih dulu mengembangkan porang.

Di sisi lain, pemetaan lahan potensial di Lotim baru dilakukan dalam dua tahun terakhir. Hingga kini, total bahan baku yang tersedia untuk diolah baru sekitar 150 ton.

“Harapan kita sebenarnya bahan bakunya sebagian besar dari Lotim karena lokasi pabrik di sini. Tapi belum siap, jadi kita ambil dari mana pun, termasuk dari NTT,” tutupnya. (par/r7)

Editor : Redaksi
#Porang #pasokan #ntt #Sumbawa #Lombok