Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Pilu Dua Lansia di Desa Kotaraja yang Hidup Miskin dimana Tinggal Seorang Diri di Rumah Reot, Makan Tunggu Pemberian Anak Hingga Tetangga

Supardi/Bapak Qila • Senin, 27 April 2026 | 13:07 WIB
DUA LANSIA: Dua orang lansia, Baiq Masari dan Baiq Hudaniah, warga Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur yang tinggal di rumah tidak layak huni sejak puluhan tahun lalu. (SUPARDI/LOMBOK POST)
DUA LANSIA: Dua orang lansia, Baiq Masari dan Baiq Hudaniah, warga Desa Kotaraja, Kecamatan Sikur yang tinggal di rumah tidak layak huni sejak puluhan tahun lalu. (SUPARDI/LOMBOK POST)

LombokPost - Di sudut Dusun Kebonan Dalem, Desa Kotaraja, Lombok Timur (Lotim), dua rumah berdinding bedek berdiri rapuh saling bersandar.

Atapnya berbeda, asbes dan spandek, tetapi nasib penghuninya sama. Baiq Masari dan Baiq Hudaniah menjalani hari tua seorang diri, di antara dinding bolong, atap bocor, dan bantuan yang jarang datang.

Dua rumah berdinding bedek berdiri berdampingan. Satu beratap asbes, satu lagi beratap spandek. Bentuk dan modelnya hampir sama. Kondisinya pun serupa. Dinding bolong di sejumlah titik. Beberapa tiang patah karena lapuk dimakan rayap.

Baca Juga: Semangat Hari Kartini, PLN Salurkan Bantuan kepada 15 Lansia Dhuafa di Lombok Timur

Tak ada barang mewah di dalamnya. Bahkan tabung gas 3 kilogram pun tidak terlihat. Dapur sederhana di belakang hanya berisi ranting kecil. Ranting itu ditata di rak kecil di atas tungku. Digunakan untuk memasak atau sekadar merebus air.

Di rumah inilah dua lansia tinggal sendiri. Baiq Masari, 73 tahun, dan Baiq Hudaniah, 65 tahun. Keduanya warga Dusun Kebonan Dalem, Desa Kotaraja. Mereka menempati rumah yang sudah tidak layak huni.

“Saya tinggal sendiri di sini. Anak saya sudah menikah ke desa lain,” terang Baiq Masari saat ditemui Lombok Post di rumahnya belum lama ini.

 Baca Juga: Fenomena "Janda Lansia": Tekanan Hidup dan Rokok Jadi Pemicu Utama Harapan Hidup Laki-laki Rendah

Di tengah gangguan penglihatan, ia tetap beraktivitas sendiri. Ia memasak dan mencuci tanpa bantuan. Kini ia tidak lagi bekerja. Hari-harinya lebih banyak di kamar. Atap kamar bocor. Dindingnya bolong di berbagai sisi.

Untuk makan dan minum, ia mengandalkan kiriman anaknya. Sesekali ia juga menerima bantuan tetangga di samping rumah.

“Kalau masak saya masih bisa sendiri, kalau beras sudah habis diantar sama anak saya, kadang dikasih juga sama keluarga yang lain atau tetangga,” bebernya.

Baca Juga: Lansia Miskin Ekstrem Tak Dapat Bansos Gegara Data

Ia mengatakan rumah itu sudah puluhan tahun ditempati. Ia bahkan lupa sudah berapa lama tinggal di sana.

Sejak dibangun, rumah itu hanya sekali direnovasi. Perbaikan hanya pada atap. Genteng diganti menjadi asbes. Genteng sebelumnya berjatuhan saat gempa beberapa tahun lalu.

“Meskipun hujan dan angin kencang, saya tetap diam di kamar. Sebenarnya takut rumahnya roboh, tapi mau bagaimana lagi,” ujarnya.

Meski masuk kategori miskin, ia jarang menerima bantuan sosial. Bantuan dari pemerintah desa, kabupaten, hingga pusat hampir tidak pernah diterima. Namanya juga tidak tercatat sebagai penerima PKH, BPNT, dan bantuan lain.

“Pernah dapat bantuan, tapi saya lupa kapan itu. Jarang saya dapat, kalau orang-orang saya lihat hampir setiap bulan dapat bantuan,” katanya.

Kondisi serupa dialami Baiq Hudaniah. Ia mengatakan sejak suaminya masih hidup, bantuan jarang ia terima. Ia hanya bisa bersabar saat melihat warga lain bolak-balik mengambil bantuan.

“Bantuan yang saya terima hanya bantuan sembako dari bupati yang diberikan saat puasa, itu pun tumben saya dapat,” katanya.

Ia menyebut pernah diusulkan mendapat bantuan rumah tidak layak huni (RTLH). Rumahnya sempat dipasangi tanda. Bahkan rencana pembongkaran sudah ada. Namun, bantuan itu tidak pernah terealisasi.

Sejak itu, Hudaniah memilih pasrah. Ia tidak lagi berharap banyak. Meski begitu, ia tetap percaya rezeki bisa datang kapan saja.

“Pekerjaan saya hanya jual ketupat keliling. Tetapi sejak satu bulan ini sudah tidak bisa jualan lagi karena kaki saya sakit. Kalau mengandalkan hasil jualan ketupat, mungkin tidak bisa untuk memperbaiki rumah, untuk makan saja kurang,” jelasnya. (SUPARDI, LOMBOK TIMUR/r7)

Editor : Redaksi
#bocor #Desa Kotaraja #rumah #Lansia #Lotim