Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Menikmati Soto Sasak Amaq Sahdan di Pasar Tanjung Teros, di Tangan Generasi Ketiga, Cita Rasa Semangkuk Soto Tetap Bertahan

Supardi • Rabu, 29 April 2026 | 08:04 WIB
LAYANI PEMBELI: Insanul Kamil pemilik warung soto Sasak Amaq Sahdan saat menyiapkan soto kepada sejumlah pembeli.
LAYANI PEMBELI: Insanul Kamil pemilik warung soto Sasak Amaq Sahdan saat menyiapkan soto kepada sejumlah pembeli.

 

LombokPost-Soto Sasak Amaq Sahdan yang lahir sejak tahun 1986, menjadi salah satu kuliner tertua di pasar Tradisional tanjung Teros, Kecamatan Labuhan Haji.

Meskipun sudah lama namun kuliner ini tetap bertahan hingga saat ini dan tetap digemari masyarakat. 

Di sudut Pasar Tanjung Teros, aroma kuah hangat perlahan menyusup di antara riuh tawar-menawar.

Wangi rempah itu seolah menjadi penanda, mengarahkan langkah siapa saja menuju sebuah warung sederhana yang tak pernah sepi.

Warung itu dikenal dengan nama Soto Sasak Amaq Sahdan. Lapaknya sederhana, namun cita rasanya telah bertahan lintas generasi.

Bagi para pedagang dan pengunjung pasar, soto ini bukan sekadar menu sarapan atau makan siang, melainkan bagian dari rutinitas yang sulit ditinggalkan.

Baca Juga: Nikmatnya Ayam Rarang, Destinasi Kuliner di Jalur Timur Lombok

Pemilik usaha Insanul Kamil mengatakan, soto tersebut telah dirintis sejak 1986 oleh kakeknya.

Kini, ia menjadi generasi ketiga yang melanjutkan usaha keluarga itu.

“Usaha ini sudah turun-temurun, saya generasi ketiga yang melanjutkan,” katanya, Senin (27/4).

Meski menyandang gelar sarjana, Insan memilih tetap menjaga warisan keluarga.

Baginya, melanjutkan usaha ini bukan hanya soal mencari penghasilan, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjuangan sang kakek.

Baca Juga: Rahasia Kuliner Legendaris di Pesisir Lombok Utara

Seiring waktu, banyak hal berubah di sekitar pasar.

Namun, tidak dengan Soto Sasak Amaq Sahdan. Resep, cara memasak, hingga penyajian tetap dipertahankan seperti dulu.

“Rasa yang paling penting untuk dijaga, karena semua orang sudah tahu bagaimana rasanya. Termasuk cara pengolahan dan penyajian tidak berubah,” ujarnya.

Nuansa tempo dulu juga masih terasa dari peralatan yang digunakan.

Panci dan kompor berbahan minyak tanah tetap setia digunakan, menghadirkan kesan autentik yang sulit ditemukan di tempat lain.

Baca Juga: Ayam Rarang, Destinasi Kuliner Ikonik di Jalur Timur Lombok

Di balik kesederhanaan itu, pelanggan terus berdatangan.

Soto ini memiliki ciri khas tersendiri, tanpa bihun, dengan isian daging sapi, lontong, tauge segar, serta racikan bumbu khas yang kuat di lidah.

“Harganya juga masih standar, satu porsi Rp 15 ribu, bahkan bisa Rp 10 ribu,” katanya.

Setiap hari Minggu, saat pasar ramai, permintaan meningkat tajam.

Tak hanya warga sekitar, pelanggan datang dari berbagai daerah untuk mencicipi soto legendaris tersebut.

Melihat antusiasme itu, Insan berencana mengembangkan usaha dengan membuka cabang di lokasi lain.

Baca Juga: Rekomendasi Bukber Asyik di Kota Praya (3), Kuliner Ayam Merangkat Khas Desa Bonjeruk jadi Incaran Pengunjung

“Kami terus berusaha menjaga rasa ini agar tetap sama seperti dulu, karena ini warisan keluarga,” tutupnya. (*/r7) 

Editor : Akbar Sirinawa
#legendaris #Kuliner #soto #Lotim #makanan