LombokPost-Irama tradisional yang lekat dengan prosesi adat, kini hidup di halaman SDN 1 Sakra.
Dari tangan-tangan kecil yang penuh semangat, gendang beleq itu menumbuhkan harapan baru bagi masa depan budaya Lombok.
Suara gendang beleq menggelegar di jalan raya Sakra-Keruak, sore itu. Irama musik tradisional Lombok tersebut menyedot perhatian para pengendara yang melintas.
Sebagian hanya menoleh, sebagian lain memilih berhenti, menikmati perpaduan tabuhan gendang dan gerak tari yang ditampilkan penuh semangat.
Namun, suara itu bukan berasal dari iring-iringan nyongkolan.
Alunan gendang beleq tersebut justru datang dari halaman SDN 1 Sakra. Para penabuhnya bukan seniman dewasa, melainkan siswa-siswi yang sedang berlatih dengan penuh antusias.
Baca Juga: Penguatan Karakter Siswa Melalui Ekstrakurikuler Paskibra SMKN 1 Jonggat
Salah seorang guru SDN 1 Sakra Lalu Romi Agustana Sakraji mengatakan, gendang beleq menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang cukup diminati di sekolah tersebut.
Selain drumband dan tari, gendang beleq justru mencuri perhatian paling besar dari para siswa.
“Ekstrakurikuler gendang beleq ini diikuti siswa kelas 4, 5, dan 6 dengan jumlah sekitar 30 orang lebih. Ini termasuk yang paling banyak peminatnya,” terang pria yang akrab disapa Miq Romi itu kepada Lombok Post, Minggu (3/5).
Ekstrakurikuler ini memang tergolong baru.
Namun kehadirannya tidak lepas dari kondisi Desa Sakra yang masih kuat menjaga tradisi, terutama musik gendang beleq.
Lingkungan budaya yang hidup membuat siswa tidak asing dengan bunyi-bunyian tradisional tersebut.
Baca Juga: Paguyuban IKBAL Didorong Jadi Duta Budaya NTB, Gubernur Bantu Pengadaan Gendang Beleq
Ketertarikan itu terlihat sejak awal latihan. Anak-anak cepat menangkap materi yang diberikan. Proses belajar pun berjalan lebih mudah dari yang dibayangkan.
“Mungkin karena mereka sudah tertarik, jadi saat latihan cepat memahami. Mengajarkan mereka tidak sesulit yang kita bayangkan,” katanya.
Tak sedikit dari siswa tersebut berasal dari keluarga pemain musik tradisional. Di rumah, mereka kembali berlatih, memperkuat apa yang didapatkan di sekolah.
Baca Juga: SMPN 22 Mataram Lestarikan Budaya Sasak Lewat Ekstrakurikuler Gendang Beleq
Budaya di Desa Sakra memang masih terjaga. Hampir setiap dusun memiliki kelompok gendang beleq. Kondisi ini menjadi modal kuat bagi sekolah untuk menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya sendiri.
“Anak-anak tidak belajar dari nol. Mereka sudah dekat dengan musik ini,” jelasnya.
Lebih dari sekadar kegiatan tambahan, ekstrakurikuler ini menjadi langkah nyata sekolah dalam menjaga keberlangsungan budaya Lombok.
Regenerasi menjadi kunci agar gendang beleq tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Menariknya, grup gendang beleq SDN 1 Sakra tidak hanya tampil di lingkungan sekolah. Mereka kerap diundang dalam berbagai kegiatan, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten.
Bahkan dalam waktu dekat, mereka dijadwalkan tampil pada pembukaan O2SN tingkat kabupaten.
Baca Juga: SMPN 12 Mataram Fokus Kembangkan Ekstrakurikuler Nonakademik
“Saat ini kami sedang latihan untuk persiapan tampil di O2SN. Anak-anak juga sudah sering tampil di berbagai acara,” katanya.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi cara sekolah mengurangi ketergantungan siswa terhadap gadget.
Anak-anak diarahkan untuk lebih aktif berkegiatan positif tanpa sepenuhnya menjauh dari teknologi yang memang sudah menjadi kebutuhan.
“Tidak bisa kita larang total penggunaan handphone. Tapi kita kurangi agar tidak berlebihan dan tidak disalahgunakan,” ujarnya.
Baca Juga: Barongsai dan Sejarah Kota Tua Ampenan Dikenalkan Lewat Ekstrakurikuler di SMPN 3 Mataram
Keseriusan sekolah terlihat dari dukungan fasilitas dan pelatih profesional yang didatangkan khusus.
Harapannya, siswa tidak hanya sekadar bisa memainkan, tetapi juga memahami nilai budaya di dalamnya.
Selain gendang beleq, SDN 1 Sakra juga memiliki sanggar tari yang telah lebih dulu berprestasi hingga tingkat provinsi.
Ke depan, kolaborasi antara tari dan gendang beleq akan menjadi kekuatan baru dalam setiap penampilan siswa.
“Selama ini musik tari hanya dari handphone. Sekarang dimainkan langsung oleh siswa, jadi jauh lebih menarik,” tutupnya. (*/r7)
Editor : Kimda Farida