Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Melon Pepino, Tanaman Pendatang Baru di Sembalun, Dibudidayakan Empat Petani, Buahnya Sekilas Seperti Terong Ungu

Supardi • Selasa, 19 Mei 2026 | 19:56 WIB
BERTANI: Hosyatillah menanam buah melon Pepino di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun
BERTANI: Hosyatillah menanam buah melon Pepino di Desa Sembalun Bumbung, Kecamatan Sembalun. 

 

LombokPost -Sembalun selama ini dikenal dengan sayur dan stroberi. Namun di salah satu sudut lahannya, ada tanaman yang belum lama ini mulai menarik perhatian petani setempat.

Tanaman sayur mayur milik petani tumbuh subur di kaki Rinjani. Lanskap hijau membentang di hampir setiap petak sawah. Satu petak diisi selada, pakcoi, wortel, bawang putih, seledri, hingga stroberi yang mulai memerah di batangnya. Semua tumbuh berdampingan dalam satu kawasan dataran tinggi Sembalun.

Di antara ragam tanaman itu, satu petak mencuri perhatian. Dari kejauhan, bentuknya sekilas menyerupai terong ungu. Namun setelah didekati, tanaman itu bukan terong. Melainkan melon pepino.

Baca Juga: Bisnis Sewa Skuter Listrik di Sembalun Tawarkan Keuntungan Melimpah

Petani Melon Pepino Desa Sembalun Bumbung Hosyatillah menjadi salah satu yang mengembangkan tanaman ini. Ia menyebut, melon pepino masih tergolong baru di Sembalun, bahkan di Lombok. Pengembangannya dimulai awal 2024 dan hingga kini baru empat petani yang membudidayakannya.

“Saat itu saya tanam di kebun yang tidak terlalu luas. Di sana kami belajar untuk mengetahui model perawatannya dan apa saja hamanya. Tapi setelah panen dua kali ternyata kurang cocok di kebun sehingga kami pindah ke sawah,” terang Hosyatillah kepada Lombok Post, Senin (18/5).

Dari kebun kecil, percobaan itu perlahan berpindah ke lahan sawah. Di situlah tanaman asal Amerika Selatan itu mulai menunjukkan adaptasi yang lebih baik. Sembalun dengan ketinggian sekitar 1.100 mdpl menjadi ruang tumbuh yang sesuai bagi tanaman ini.

Baca Juga: Cek Kesehatan Gratis di Sembalun Belum Maksimal

Meski disebut melon, wujud tanamannya justru lebih dekat dengan terong. Batangnya tegak, tidak merambat seperti melon pada umumnya. Kondisi itu pula yang membuat sebagian masyarakat di daerah lain mengenalnya dengan sebutan terong.

“Memang di beberapa daerah tanaman ini juga ada yang menyebutnya terong. Rasanya enak dan banyak sekali manfaat untuk tubuh,” jelasnya.

Di balik bentuknya yang sederhana, perawatan melon pepino tidak sesulit tanaman hortikultura lain. Biaya produksi relatif ringan. Namun ada satu hal yang tak bisa diabaikan, penopang atau ajir dari bambu. Ajir menjadi penting agar batang tidak roboh saat angin kencang menerpa kawasan dataran tinggi.

Baca Juga: Geopark Rinjani Resmi Beroperasi, Sambut Rinjani 100 Ultra 2026 di Sembalun

Dari sisi varietas, tanaman ini memiliki dua jenis warna, hijau dan ungu. Masa produksinya berkisar 3-5 bulan. Di sejumlah wilayah lain di Indonesia, tanaman ini bisa bertahan hingga lebih dari satu tahun.

“Di daerah lain bisa sampai satu tahun. Tapi kami baru memasuki tanam ketiga, jadi selama ini masa produksinya berkisar 3-4 bulan saja. Namun berdasarkan informasi, buah melon yang tumbuh di Sembalun ini sangat besar dibandingkan di tempat lain,” katanya.

Dalam satu batang tanaman, buah yang dihasilkan tidak sedikit. Satu pohon dapat memproduksi 50—60 buah selama masa panen. Namun ukuran buah akan mengecil seiring berjalannya waktu produksi.

Baca Juga: Pusuk Sembalun Bersih, Wisata Nyaman

Pada panen awal, ukuran buah bisa mencapai setengah kilogram, bahkan ada yang menembus satu kilogram. Dari sisi pemasaran, konsep agrowisata menjadi pilihan utama. Pengunjung datang langsung ke kebun, memetik sendiri, dengan pembelian minimal setengah kilogram seharga Rp 50 ribu per kilogram.

“Alhamdulillah peminat melon ini cukup banyak terutama wisatawan dari luar, karena sudah banyak yang mengenal buah ini. Jadi pemasaran kami tidak kesulitan, bahkan kami yang kewalahan karena hasil panen masih sedikit,” katanya.

Dari kebun di lereng Rinjani itu, harapan mulai disusun lebih jauh. Hosyatillah berencana memperluas budi daya bersama pemuda dan petani lain di Sembalun. Melon pepino diharapkan tidak sekadar menjadi komoditas baru, tetapi juga membuka ruang wisata buah dan menggerakkan ekonomi kawasan dataran tinggi itu. (*/r7)

Editor : Prihadi Zoldic
#sayur #Melon #sembalun #wisata #sayuran