Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Cerita Si Kober, Penjual Cilok "Barbar"yang Viral di Pusuk Sembalun

Supardi • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:20 WIB
LAYANI PEMBELI: Saril Rayidi, penjual cilok di wisata Pusuk Sembalun, viral karena aksinya berjualannya yang barbar. (Supardi/Lombok post)
LAYANI PEMBELI: Saril Rayidi, penjual cilok di wisata Pusuk Sembalun, viral karena aksinya berjualannya yang barbar. (Supardi/Lombok post)

LombokPost-Tidak sulit menemukan sosok Kober di jalur wisata Pusuk Sembalun. Suaranya lebih dulu terdengar sebelum lapak ciloknya terlihat. Dengan gaya barbar dan tingkah kocak, pria asal Desa Sapit itu kini dikenal banyak wisatawan hingga pengguna media sosial. 

Udara dingin mulai terasa saat kendaraan memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Kabut tipis turun perlahan di jalur Pusuk Sembalun. Di beberapa titik, pengendara tampak memilih berhenti sejenak. Ada yang menikmati kopi hangat, beristirahat, atau sekadar mencicipi cilok di pinggir jalan wisata itu.

Di antara puluhan pedagang cilok, satu sosok paling mudah dikenali. Suaranya keras. Tingkahnya barbar. Sesekali ia berlari kecil sambil membawa kursi dagangan mengejar pengunjung yang melintas. Tingkahnya itu justru mengundang tawa wisatawan.

Baca Juga: Sambut Harkitnas 2026, Pertamina Bangkitkan Kejayaan Kopi Sembalun hingga Tembus Penghargaan Dunia

Dialah Saril Rasyidi, pria yang lebih dikenal dengan nama Kober. Belakangan, namanya ramai di media sosial. Video-videonya saat berjualan cilok di Pusuk Sembalun banyak beredar. Dalam beberapa unggahan, ia terlihat ngomel sambil menawarkan dagangan kepada pengunjung. Aksi spontan itu justru menjadi hiburan bagi banyak orang.

Kober bercerita, gaya jualan barbar itu awalnya tidak disengaja. Sekitar dua tahun lalu, ia hanya bercanda dengan seorang teman yang membeli cilok di lapaknya. Saat itu ia melayani sambil ngomel-ngomel. Tanpa disangka, aksi itu direkam lalu diunggah ke media sosial hingga viral.

“Yang pertama rekam teman saya dulu, video itu kemudian viral. Dari sana saya coba ngonten sambil jualan dengan gaya ngomel, kadang mengejar pembeli. Ternyata aksi saya itu banyak yang terhibur dan suka dengan konten itu,” terang Kober.

Baca Juga: Sukses Amankan Geliat Ekraf Regional, Satpol PP NTB Pimpin Operasi Terpadu di Senggigi

Pria kelahiran 1999 itu setiap hari berjualan cilok di pinggir jalan wisata Pusuk Sembalun. Tepatnya di dekat pintu masuk pendakian Bukit Gedong atau sebelum sampai di kawasan Pusuk Sembalun. Sejak pagi hingga sore, ia menghabiskan waktu di lokasi itu menawarkan cilok kepada para pengunjung yang melintas.

Meski kerap berjualan sambil ngomel dan mengejar pembeli sambil membawa kursi, sejauh ini belum ada pengunjung yang tersinggung. Banyak wisatawan justru tertawa melihat tingkahnya. Tidak sedikit pula yang sengaja berhenti karena penasaran dengan sosok Kober yang sering muncul di media sosial.

Kober mengaku banyak pengunjung awalnya tidak berniat membeli. Namun setelah melihat aksinya, mereka justru mampir ke lapaknya.

Baca Juga: Melon Pepino, Tanaman Pendatang Baru di Sembalun, Dibudidayakan Empat Petani, Buahnya Sekilas Seperti Terong Ungu

“Banyak juga yang hanya sekadar menyapa dengan memanggil nama Kober, karena mereka kenal saya dari media sosial,” katanya.

Di media sosial, aksi Kober memang cukup dikenal. Namun, Kober mengungkapkan, tidak semua orang diperlakukan sama. Ia lebih dulu melihat situasi dan ekspresi pengunjung sebelum mulai mengeluarkan gaya barbarnya.

“Kalau orangnya kelihatan sedang tidak mood cukup disapa dengan senyum saja. Tetapi kalau orangnya yang senyum dulu, saya langsung keluarkan jurus barbar sambil ngomel-ngomel untuk menawarkan mereka beli cilok,” jelasnya.

Baca Juga: Bisnis Sewa Skuter Listrik di Sembalun Tawarkan Keuntungan Melimpah

Nama Kober yang kini melekat pada dirinya ternyata punya cerita sendiri. Sebelum berjualan cilok, ia pernah bekerja sebagai kuli bangunan di Bali. Seusai bekerja, ia kerap makan di Mie Kober. Dari situlah nama itu kemudian dipakai untuk akun media sosial hingga nama dagang ciloknya. 

Aksi barbar sambil berjualan itu kini membawa perubahan bagi penghasilannya. Tidak hanya dari jualan cilok, ia juga mulai mendapat pemasukan dari konten media sosial dan tawaran endorse. Bahkan, tidak jarang dagangannya diborong pengunjung.

“Hasilnya lumayan dari hasil konten, tapi untuk saat ini hasil jualan cilok lebih besar dari ngonten,” tutupnya. (*/r7)

 

 

 

 

 

Editor : Redaksi Lombok Post
#cilok #Pusuk Sembalun #rinjani #sembalun #wisata