LombokPost-Keberadaan Sekolah Rakyat Menegah Atas (SRMA) bukan hanya untuk menekan angka putus sekolah.
Namun juga membuat anak-anak yang berasal dari keluarga miskin terutama yang masuk desil satu dan dua dapat menatap masa depan dengan penuh harapan.
Aroma roti hangat menyeruak dari ruang praktik Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian (APHP) SMKN 1 Sakra.
Siang itu, beberapa loyang roti baru selesai dipanggang. Aroma manisnya bahkan tercium hingga ke parkiran sekolah.
Di dalam ruang praktik, siswa-siswi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur (Lotim) sibuk dengan adonan dan roti buatan mereka.
Mereka bukan siswa tata boga SMKN 1 Sakra. Mereka datang untuk belajar keterampilan tata boga.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Menengah Atas 38 Lombok Timur Mulai Jaring Siswa Baru
Bagi Novia Ariani, siswa SRMA 38 Lotim asal Kecamatan Terara, praktik membuat roti menjadi pengalaman baru.
Selama ini, ia hanya tahu menikmati roti. Kini, ia mulai memahami proses membuatnya.
Ia belajar mengenal bahan, mengatur air, memperhatikan suhu, hingga melihat adonan berubah menjadi roti matang.
Dalam dua kali pertemuan, Novia sudah mencoba membuat lima jenis roti.
“Alhamdulillah sudah bisa buat. Cuma ada beberapa yang masih perlu didampingi. Misalnya mengatur air dan suhu. Kalau yang lain sudah bisa kerjakan sendiri,” jelasnya.
Baca Juga: DPRD Kawal Pembangunan Sekolah Rakyat, Program Prioritas Presiden Prabowo
Novia sempat melewati masa sulit saat awal masuk SRMA. Ia mengaku bingung dengan pola belajar di sekolah barunya. Tinggal di asrama juga bukan hal mudah baginya.
Namun, suasana itu berubah setelah kegiatan sekolah mulai aktif. Novia mulai menemukan banyak hal baru.
Di SRMA, ia tidak hanya belajar akademik, tetapi juga berbagai keterampilan.
“Saya ingin kuliah. Makanya saya tertarik untuk masuk ke sini (SRMA) karena kan nanti kita disuruh untuk lanjut kuliah. Kalau tidak kuliah kita harus bekerja. Ini yang membuat saya sangat tertarik sekolah di sini,” tutupnya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Lombok Tengah Ditargetkan Beroperasi 2027
Hari itu, Novia tidak sendiri. Ada 22 siswa SRMA 38 Lotim yang memilih keterampilan tata boga. Dua di antaranya laki-laki.
Mereka belajar langsung di SMKN 1 Sakra. Para siswa didampingi guru tata boga sekolah setempat. Prosesnya dimulai dari pengenalan alat, bahan-bahan, mencampur adonan, hingga pengemasan.
Pada pertemuan kedua, mereka membuat berbagai jenis roti. Mulai dari roti keju, roti abon, roti cokelat, roti kacang, dan lainnya.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Jadi Senjata Baru Hapus Kemiskinan Ekstrem
Wali Asrama SRMA 38 Lotim Baiq Winda Is Handayani menyampaikan, siswa SRMA memang diarahkan memilih keterampilan sesuai minat.
Keterampilan itu kemudian dikembangkan melalui kerja sama dengan sejumlah sekolah dan lembaga pelatihan.
“Jadi masing-masing siswa sudah memilih keterampilan yang akan dikembangkan di SR. Sehingga mereka ada praktiknya,” terang Baiq Winda kepada Lombok Post saat ditemui di SMKN 1 Sakra, Minggu (24/5).
Baiq Winda mengatakan, pola belajar siswa SRMA berbeda dengan SMKN. Siswa SRMA lebih cepat masuk ke praktik setelah mendapat teori singkat.
Baca Juga: Mensos Gus Ipul Sebut jadi Murid Sekolah Rakyat Fleksibel Tanpa Paksaan
“Kalau di SMKN mereka belajar teori itu hampir satu tahun. Baru kelas dua mereka praktik. Kalau siswa-siswi SRMA teorinya hanya sebentar kemudian langsung praktik,” jelasnya.
Hasil praktik para siswa dinilai cukup baik. Meski baru dua kali pertemuan, mereka sudah mampu membuat roti dengan hasil yang tidak jauh berbeda dari siswa tata boga setempat. Bahkan, hasil roti itu dinilai sudah layak dipasarkan ke toko-toko besar. (*/r7)
Editor : Kimda Farida