LombokPost-Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur (Lotim) meminta menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk Bumil, Busui, dan Balita (B3) tidak disamakan dengan anak sekolah.
Menu diminta diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sasaran.
"Kita sudah diskusi dengan SPPG agar pola penyaluran MBG untuk sasaran B3 ini dibedakan dengan sekolah. Misalnya Balita, masak menunya sama dengan anak sekolah," terang Plt Kepala Dinas P3AKB Lotim Taufik Hidayatullah kepada Lombok Post, Senin (25/5).
Diakui, pihaknya tidak bisa mengintervensi pemilihan menu untuk B3.
Namun, ia mendorong SPPG dan ahli gizi supaya menu yang diberikan sesuai kebutuhan masing-masing sasaran.
Dicontohkan, balita yang hanya bisa makan bubur harus diberikan bubur, bukan ayam goreng.
Baca Juga: Sinergi Program Strategis Pangan, Presiden Prabowo Sebut MBG dan Infrastruktur Jadi Kunci Kedaulatan
Taufik menyebut, sejauh ini semua sasaran B3 sudah ter-cover MBG. Termasuk sasaran di daerah terpencil, terluar, dan terjauh (3T).
Untuk menjangkau sasaran ini, SPPG juga melibatkan kader maupun pendamping keluarga di desa.
"Kalau untuk data sasaran B3 kita belum tahu jelasnya. Ini yang juga sedang kita bedah berapa data pastinya. Karena data ini sangat penting. Termasuk juga dengan dampak dari pemberian MBG kepada B3 ini juga belum bisa kita lihat," katanya.
Namun, dilihat dari kasus stunting di Lotim saat ini yang mencapai 200 ribu lebih, program pencegahan dan penanganan stunting perlu menjadi perhatian dan evaluasi agar bisa lebih tepat sasaran dan lebih berdampak.
Baca Juga: Menu MBG SMKPPN Mataram Makin Berkualitas, Siswa Dapat Asupan Gizi Lengkap
Misalnya program orang tua asuh yang selama ini digalakkan dengan melibatkan sejumlah OPD, perusahaan, dan pihak terkait untuk memberikan bantuan telur.
Sementara, tidak semua sasaran membutuhkan telur.
Taufik mengapresiasi program orang tua asuh ini.
Semua pihak terlibat dalam pencegahan stunting di Lotim.
Namun, intervensi harus disesuaikan dengan kebutuhan.
Pihaknya saat ini tengah mencari formulasi yang tepat untuk penanganan dan pencegahan stunting di Lotim.
Bahkan pihaknya tengah membuat salah satu percontohan penanganan stunting di Sukamulia Timur, Kecamatan Sukamulia.
Baca Juga: Polisi Selidiki Kasus IRT Kritik Menu MBG
Sebelumnya, Wakil Bupati Lotim Moh Edwin Hadiwijaya mengatakan Pemkab Lotim dan satgas MBG kabupaten tidak bisa mengintervensi menu yang disajikan MBG, khususnya untuk sasaran B3.
Satgas hanya bisa melakukan pengawasan terhadap Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Sebab, hal itu menyangkut lingkungan.
Seharusnya kata dia, dapur B3 dengan anak sekolah dibedakan, agar tujuan pemberian MBG terhadap B3 untuk menyelesaikan persoalan stunting bisa tercapai. (par/r7)