LombokPost - Alumni SDN 1 Jerowaru, Kecamatan Jerowaru, melakukan open donasi atau urunan untuk memperbaiki bangunan sekolah yang kondisinya sangat memprihatinkan. Sebagian atap sekolah sudah lapuk dan berjatuhan. Kondisi ini terjadi karena bangunan sekolah sudah termakan usia.
“Penggalangan donasi ini kami lakukan murni karena panggilan jiwa, karena melihat kondisi bangunan kelas yang dulu pernah memberikan kami banyak ilmu,” terang salah seorang alumni sekaligus Koordinator Penggalangan Dana, Suandi Yusuf, Senin (1/6).
Penggalangan ini dilakukan atas inisiatif alumni untuk perbaikan sekolah. Sebab, kondisi anggaran pendidikan Lotim saat ini juga terdampak efisiensi, khususnya untuk renovasi gedung sekolah.
Baca Juga: Dikbud Lombok Timur Kembali Usulkan Sekolah Rusak Dari Dana Revitalisasi
Meski pemerintah saat ini tidak bisa melakukan perbaikan akibat keterbatasan anggaran, Suandi berharap minimal dari kalangan pemerintah bisa terlibat dan menyalurkan bantuan seikhlasnya.
“Saya mengutip apa yang sering disampaikan Pak Sekda. Seberat apa pun masalah, jika dipikul bersama-sama, maka akan terasa ringan, dan hari ini kita ingin melakukan itu,” jelasnya.
Aksi open donasi ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan pendidikan. Termasuk kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Sebab, hal itu menjadi tanggung jawab pemerintah.
Baca Juga: Dikbud NTB Beri Waktu Dua Bulan Perbaiki Dapodik, Penentu Revitalisasi Sekolah Rusak
“Semoga dengan donasi yang kami galang ini, bisa mencapai target untuk merampungkan perbaikan atap ruang kelas yang roboh tersebut. Sekarang baru terkumpul Rp 4,5 juta lebih. Target sebanyak-banyaknya dana yang terkumpul,” tutupnya.
Kepala Sekolah SDN 1 Jerowaru Muhyi mengatakan, sebagian atap sekolah sudah lapuk dan berjatuhan. Kondisi ini terjadi karena bangunan sekolah sudah termakan usia.
“Satu ruangan atapnya sudah jatuh di sejumlah bagian akibat diguyur hujan beberapa hari lalu. Termasuk ruangan guru juga cukup parah,” terang Muhyi.
Baca Juga: Damkarmat Lotim Edukasi Cegah Kebakaran di Sekolah
Satu kelas telah dikosongkan sejak dua bulan lalu karena atap bangunan mulai lapuk. Sebagian kayu dan genteng sudah berjatuhan, seperti di teras sekolah dan belakang sekolah.
Selain bagian atap, kelas yang ditempati kelas satu itu bagian tembok dan tiangnya sudah keropos dan bolong di sejumlah bagian. Bahkan, besi di dalam tiang sudah terlihat dan parah. Termasuk bagian lantai dan kusen sekolah juga sudah rusak dimakan rayap.
“Sebelumnya kelas ini masih digunakan. Tapi begitu saya pindah ke sini dua bulan lalu. Saya minta kelasnya dikosongkan. Karena sangat berbahaya,” jelasnya. (par/r7)
Editor : Prihadi Zoldic