LombokPost-Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Hamzanwadi akan menggelar workshop dan memberikan pendampingan kepada para penenun di Desa Pringgasela, Kecamatan Pringgasela. Kegiatan itu akan dilaksanakan pada 11-12 Juli mendatang.
“Ini bagian dari rangkaian kegiatan implementasi hibah program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek),” terang Ketua Tim PKM Universitas Hamzanwadi sekaligus penerima Hibah Program PKM Kemendiktisaintek Dr Ramli Akhmad, Rabu (8/7).
Dalam implementasi program ini, ia bekerja sama dengan kelompok pengrajin yang tergabung di Berugak Tenun Pringgasela. Program ini disebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuannya, kesetaraan gender, pekerjaan layak, dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi Rampungkan Pengabdian, Tinggalkan Program Berkelanjutan
Kegiatan ini juga menjadi implementasi Asta Cita. Terutama membangun dari desa, memperkuat ekonomi kreatif, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi lokal.
“Kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka memperkuat peran perempuan sebagai penggerak ekonomi kreatif berbasis budaya sekaligus mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Melalui implementasi PKM ini, kapasitas perempuan penenun songket di Pringgasela diharapkan meningkat. Penguatan dilakukan pada aspek sosial, budaya, serta penerapan teknologi tepat guna yang mendukung prinsip ekonomi hijau.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk songket. Sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan sebagai identitas masyarakat Pringgasela. Peserta yang hadir ditargetkan 70 orang dari kelompok perempuan penenun dan pengusaha.
“Peserta akan diberikan pendampingan mengenai pencatatan usaha sederhana, pengelolaan rumah produksi, penguatan kelembagaan kelompok, branding produk, hingga strategi promosi melalui kegiatan budaya seperti festival songket dan pemasaran digital,” katanya.
Ramli menegaskan, program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi kain songket. Tetapi juga membangun sistem pemberdayaan yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Unram-Universitas Hamzanwadi Bersinergi, Percepat Pemenuhan Dokter di NTB
Menurutnya, songket Pringgasela bukan sekadar produk kerajinan. Tetapi warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, identitas, dan kearifan lokal masyarakat Lombok.
“Yang kami bangun bukan hanya keterampilan produksi, tetapi juga ekosistem sosial, budaya, dan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya.
Menurutnya, integrasi keilmuan dari bidang Pendidikan Geografi, Ekonomi, dan Bimbingan Konseling menjadi kekuatan utama program ini. Sehingga solusi yang diberikan tidak hanya menyelesaikan persoalan produksi. Tetapi juga menyentuh aspek psikososial, manajemen usaha, dan pemasaran berbasis budaya.
Baca Juga: Unram-Universitas Hamzanwadi Bersinergi, Percepat Pemenuhan Dokter di NTB
Ketua Kelompok Berugak Tenun Pringgasela Hafifuddin Zuhri menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program ini. Mereka sangat menyambut baik kegiatan itu. Sebab, kegiatan ini menjawab kebutuhan kelompok penenun di Pringgasela.
“Kami berharap kegiatan pelatihan dan pendampingan ini menjadi langkah awal lahirnya kelompok penenun yang lebih mandiri, inovatif, dan berdaya saing,” katanya. (par/*/r7)
Editor : Kimda Farida